Monthly Archives: May 2012

Keesaan Allah dalam Dialog Teologis Kristen-Islam

بسم الاب والابن و الروح القدس، الاله الواحد،آمين

Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Allah Yang Maha  Esa, Amin.

Keesaan Allah dalam Dialog Teologis Kristen-Islam
Oleh: Bambang Noorsena

 1. Catatan Pendahuluan

قل لا إله إلا الله,  ولا شىء إلا الله , و كن مسيحياً

Qul: Lâ Ilaha illa llâh  wa  lâ  syai’an illa llah
wa kun Masîhiyyan.
Artinya: “Katakanlah: Tidak ada ilah selain Allah, dan
dan tidak ada sesuatu pun selain Allah, dan Jadilah kamu seorang Kristen!”.[1]

Ungkapan ini ditulis oleh Kahlil Gibran, seorang penyair Kristen Lebanon dalam  bukunya  Iram  Dzat  al-Imad (Iram, Kota yang Berbenteng). Ketika Kahlil Gibran menulis ungkapan dalam syairnya tersebut, bukan hal yang menghebohkan di dunia Arab, karena memang Kristen dan Islam berakar pada budaya dan bahasa yang sama. Lain di Lebanon, lain pula di Indonesia. Salah satu artikel saya, “Lâ Ilaha illa llâh: Tauhid dalam Kristen dan Islam”, pernah bikin heboh media massa di Indonesia beberapa tahun lalu.

Wacana ini pada waktu itu saya munculkan, bukan karena saya sekedar mencari sensasi, tetapi lebih-lebih didorong oleh keprihatinan karena kesenjangan yang kian melebar dalam dialog teologis Kristen-Islam di Indonesia, khususnya dalam “bahasa teologis”. Hal tersebut disebabkan, karena Kekristenan yang berkembang di Indonesia sudah sangat mapan berwarna Barat, meskipun Kekristenan, seperti halnya Islam, pada awalnya adalah agama Timur Tengah. Jadi, kita saja yang sebenarnya kagetan (terkaget-kaget) dan gumunan (terheran-heran).

Dalam artikel tersebut, saya buktikan bahwa bukan hanya ungkapan Lâ Ilaha illa llâh (Tidak ada ilah selain Allah) tersebut memang termaktub dalam Alkitab bahasa Arab,[2] tetapi juga dalam garis besar memang ada paralelisasi antara pergulatan pemikiran gereja mengenai keabadian Firman Allah yang dalam Iman Kristen diterapkan untuk ‘Isa Al-Masih, dengan Ilmu Kalam Islam yang diterapkan bagi al-Qur’an.

Kembali ke soal “bahasa teologis” doktrin keesaan Allah dalam Kristen dan Islam tadi, lebih jauh paralelisasi itu tidak hanya dalam penggunaan bahasa Arab saja, melainkan juga sama-sama menerima “warisan filsafat Yunani”, yang akhirnya mengalami proses arabisasi. Dan selanjutnya, warisan filsafat Yunani-Arab itulah yang dibawa ke Indonesia, seiring dengan perkembangan Islam. Menurut hemat saya, latarbelakang ini haruslah dipertimbangkan sebagai salah satu pola berteologi Kristiani yang kontekstual dalam rangka dialog teologis dengan Islam.[3]

Paralelisasi tersebut, ternyata tidak sulit dipahami oleh saudara-saudara Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Hasyim Muhammad dalam bukunya, Kristologi Qur’ani: Telaah Kontekstual Doktrin Kekristenan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

Pada wilayah Ilmu Kalam, perdebatan tentang doktrin kekekalan Memra (Firman) dapat dibandingkan dengan perdebatan tentang keqadiman al-Qur’an, sebagaimana yang dilakukan oleh Bambang Noorsena, seorang intelektual Kristiani. Ia menyerupakan pandangan Arius dengan kaum Mu’tazilah dalam aliran kalam, yang berpendapat bahwa al-Qur’an sebagai firman Allah adalah makhluk dan bersifat baru.

Sementara aliran-aliran gereja besar (Kanisah, wâ-hidah, muqadasah, jami’ah wa rasuliyah) yang meyakini kekekalan memra (Firman) serupa dengan Asy’ariyah atau paham Ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Asy’ariyah menyatakan bahwa Kalâm Allah adalah qa-dim, tidak diciptakan (ghair al-makhlûq), justru melalui Kalâm Allah alam semesta diciptakan. Sebagaimana dalam ayat al-Qur’an:

وَ مِنْ أياتِه أنْ تَقُوم السَمَآء والأَرْض بِأمْرِه ….

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tegaknya langit dan bumi dengan (‘amr) perintah-Nya” (Q.s. ar-Rûm/30:25).

Menurut  al-Asy’ari, yang dimaksud dengan ‘amr adalah “Kalam Allah”. Sementara hubungan antara sifat dan dzat Allah digambarkan oleh Asy’ari, bahwa sifat-sifat Allah tidak identik dengan dzât, namun tidak berbeda dengan dzât (Al-Shifât laysa al-dzât wa lâ hiya ghairuhâ). Konsep ini sebanding dengan yang dikemukakan dalam al-Kitâb bahwa firman Allah kekal bersama Allah, dan serentak pula bukan lain dari Allah.

Berkenaan dengan wujud firman Allah yang diturunkan ke dunia dalam Kristen dikemukakan, bahwa firman Allah telah turun dari surga dan menjelma oleh Roh Kudus menjadi manusia dari Perawan Maryam (nazala min al-sama’i watajja-sad birûh al-quds, wa min Maryam al-Adzrâ’i al-batûli wa sharâ insânan). Sementara, mengenai turunnya kalâm Allah dalam perspektif Islam, al-Qur’an mengemukakan bahwa telah diturunkan kepada Muhammad kitâb (al-Qur’an) dengan kebenaran (nazala ‘alaika al-kitâba bi al-haq). Gereja membedakan antara tabi’at kemanusiaan Yesus yang makhluk dengan tabi’at keilahiannya  yang abadi (ghair al-makhlûq).

Demikian juga ilmu kalam membedakan antara al-Qur’an sebagai firman Allah yang kekal (kalâm nafsî) berupa nilai substantif pesan moral ketuhanan dengan al-Qur’an yang bersifat temporal (kalâm lafdhî) berupa susunan kalimat, suara dan warna yang menandai cirri fisik al-Qur’an.

Dengan demikian telah jelas, bahwa dalam iman Kristiani firman Allah identik dengan Yesus Kristus, bukan al-Kitâb. Sementara dalam Islam firman Allah identik dengan al-Qur’an, bukan Muhammad. Perbedaan inilah yang sering menimbulkan kesalahpahaman atau sumber perdebatan di kalangan agamawan dalam mengkomunikasikan antara doktrin-doktrin keislaman dan kekristen-an.[4]

2.  Syema “Tauhid Yahudi”, dan Pernyataan Allah dalam Kristus

          ܐܳܡܰܪ ܠܶܗ ܝܶܫܽܘܥ ܩܰܕ݂ܡܳܝ ܡܶܢ ܟ݁ܽܠܗܽܘܢ ܦ݁ܽܘܩܕ݁ܳܢܶܐ ܫܡܰܥ ܐܺܝܣܪܳܝܶܠ ܡܳܪܝܳܐ ܐܰܠܳܗܰܢ ܡܳܪܝܳܐ ܚܰܕ݂ ܗ݈ܽܘ                    Amar leh Yesyu’a, “Qadmai min kulhon phuqddana: Syma’ yisra’el, Marya elahan Marya had hu”.

          Kata Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai Israel, Tuhan, Ilah kita, Tuhan itu Esa” (Mark. 12:29, teks Peshitta).

Ungkapan Yesus, “Dengarlah, hai Israel, Tuhan Ilah kita, Tuhan itu Esa” (Sym’a Yisra’el Marya elahan Marya Had hu), adalah terjemahan bahasa Aram/Suryani, yaitu bahasa sehari-hari Yesus dan para murid-Nya, dari Syema’  atau Syahadat Yahudi yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani sebagai berikut: Syema’ Ysra’el YHWH Eloheinu YHWH Ehad.[5] Dalam teks-teks kuno bahasa Aram, tetagrammaton atau catur aksara suci YHWH (dibaca: The LORD, TUHAN), telah diterjemahkan dengan Marya.[6]

Pada saat yang sama, tradisi liturgis terkuno gereja Yahudi di Yerusalem, telah menerapkan gelar Mar tersebut (cf. Maranatha, yang berasal dari: Marana = “Tu(h)an kami”, tha = “Datanglah!”) itu untuk Yesus, yang mereka percayai sebagai Sang Mesiah yang dijanjikan Allah. Jadi, dalam Perjanjian Baru dikemukakan dengan tegas relasi khusus Yesus dengan Allah. Persoalannya, bagaimana hubungan ini dijelaskan?  Umat Kristen perdana percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesiah yang datang dari Allah. Dan sudah barang tentu, keyakinan mengenai Raja Mesiah itu berakar dari konsep Yahudi.

Dan sebagaimana dicatat dalam targum-targum, yaitu komentar-komentar Perjanjian Lama dalam bahasa Aram, sosok Sang Mesiah ini diidentikkan dengan Memra (Firman Allah), yang oleh-Nya Allah menciptakan alam semesta, dan melalui-Nya pula Allah mengkomunikasikan Diri-Nya dengan umat ciptaan-Nya. Konsep Memra inilah yang melatarbelakangi prolog Injil Yohanes mengenai pra-eksistensi Firman Allah (Yoh. 1:1-3,14), dan bukan konsep logos dalam filsafat Helenisme, sekali pun teks bahasa Yunani dari Injil tersebut memakai istilah Logos yang sebelumnya sudah dipakai dalam Septuaginta.

Sementara itu patut dicatat pula, bahwa baik Taurat, Kitab Nabi-nabi dan Tulisan-tulisan Suci (Torah, Nevim we Ketuvim) yang oleh orang Kristen disebut Perjanjian Lama, menenekankan bahwa Allah itu Esa, dan bersama dengan itu Dia berkarya bersama Firman atau Hikmat-Nya, dan Roh Kudus-Nya. Begitu juga Perjanjian Baru meneruskan saja ungkapan-ungkapan ini, yang disebutnya sebagai Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.

Jadi, tidak ada yang berubah dan berkembang mengenai konsep Allah, yang dalam Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi pra-Kristen juga sudah digelari Sang Bapa,[7] yang berkarya bersama Firman dan Roh-Nya tersebut (Kej. 1:1-3). Satu-satunya perkembangan yang mungkin menarik dicatat, adalah ungkapan Putra Allah yang menunjuk kepada Firman-Nya. Dalam Perjanjian baru mendapatkan tekanan khusus, yang akhirnya dirumuskan dalam konsep “kelahiran ilahi Kristus” (Divine Birth of Jesus Christ).

Tetapi sekali lagi, meskipun Iman Kristen akhirnya menjadikan konsep kelahiran Ilahi tersebut sebagai “titik pancang” dalam teologinya, tetapi konsep ini juga bukan hal yang baru sama sekali. Sebab naskah-naskah Qumran sudah mengenal konsep kelahiran Ilahi Sang Mesiah dari Allah, seperti tercantum dalam QIsa 12,7: “Allah telah melahirkan Mesiah-Nya” (‘im yolid el eth ha Mashiah).[8] Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lain dalam targum-targum Aram pra-Kristen yang memuat identifikasi Memra (Sabda Ilahi) dengan Sang Mesiah yang akan datang.

Nah, hubungan Keputraan Ilahi Yesus sebagai Firman Allah itu, dalam tulisan-tulisan patristik, yang antara lain dari murid-murid para rasul sendiri, lalu direnungkan, didalami dan direfleksikan dalam kehidupan iman gereja pada zamannya.  Permenungan itu, sudah dimulai sejak era kekristenan yang paling dini, seperti misalnya tampak dari doa kesyahidan Mar Polikarpus, seorang murid Rasul Yohanes, yang memuji Allah Bapa dan Yesus, Sang Imam Surgawi yang kekal, serta memuliakan Roh Kudus-Nya. [9]

Begitu juga, Mar Ignatius al-Anthakî (67-100 M), murid langsung Rasul Petrus dan Patriarkh gereja Antiokia, yang menulis lebih konseptual:

          Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal (hos setin auto seges proeltôn).[10]

          Dalam suratnya kepada orang-orang Efesus, Mar Ignatius juga menyebut ‘Isa (Yesus) sebagai “Manunggaling Kawula-Gusti” (en anthropo theos), dan menyebut kodrat ganda-Nya sebagai:

          “….yang menurut daging dan menurut Roh, yang dilahirkan dan yang tidak dilahirkan, yang keluar dari Maria dan yang keluar dari Allah (kai sarkikos kai pneumatickos, gennetos kai agennetos, kai ek marias kai ek theos), yang pertama terpikirkan dan yang kedua tak terpikirkan”.[11]

          Begitu juga dalam Surat Barnabas (ditulis tahun 90-120), pra-eksistensi Yesus sebagai Firman Allah sangat ditekankan. Dalam dokumen yang sampai sekarang dihormati dalam Gereja Ortodoks Koptik, dan dibacakan dalam rangkaian tahun liturgis dalam terjemahan bahasa Arab itu, disebutkan sebagai berikut:

و إن كان ابن الله قد جاء باجسد

“Dan apabila Putra Allah telah datang sebagai manusia…”
(Risâlah Barnâbâ/Epistle of Barnabas 5,11).

كيف يعلن الاب كل شىء مفصلا عن إبنه

“Bagaimana Sang Bapa telah menyatakan segala sesuatu melalui Putra-Nya”
(Risâlah Barnâbâ/Epistle of Barnabas 5,11).[12]

Sedangkan Mar Yustin al-Syahid (100-167) menegaskan bahwa Yesus sebagai Firman Allah adalah “tidak diciptakan” (ghayr al-makhlûq). “Kami menyembah Allah”, katanya, “tetapi kami juga mengasihi Firman yang keluar dari Allah, yang tidak diciptakan dan kebesaran-Nya tidak terhingga”. [13] Demikianlah bapa-bapa rasuli merefleksikan relasi antara Allah, Firman dan Roh-Nya pada awal sejarah gereja perdana, hingga munculnya bid’ah Arius yang menyangkal ke-“bukan makhluq”-an Firman Allah.

Sebagai reaksi atas pandangan Arius, yang mementaskan paham Logos Neo-Platonis itulah, konsili Nikea tahun 325 digelar, yang memutuskan ajaran yang diwarisi gereja dari mula-mula bahwa Firman bukan ciptaan, karena justru “oleh-Nya Allah telah menciptakan segala sesuatu” (Kej. 1:3, Maz. 33:6; Yoh. 1:3, 1 Kor. 8:6). Jadi, dengan menegaskan bahwa Firman dan Roh-Nya tidak tercipta, sebenarnya konsili-konsili ekumenis gereja mula-mula hanyalah menegaskan kekekalan hypostasis-hypostasis ilahi dalam Allah Yang Esa, dan bukan memperilah sesuatu di luar Dzat-Nya.

Dalam konteks inilah penegasan keilahian Yesus harus kita pahami, bahwa frase-frase kontra-Arian dalam konsili Nikea, yang berbunyi sebagai berikut:

 “Putra Allah yang tunggal yang lahir dari Sang Bapa yang sehakekat dengan Dzat Sang Bapa…” (Ibn allâh al-wahîd al-maulûdu min al-Ab alladzi jauhar al-Ab), …[14]

“dilahirkan, tidak diciptakan, satu dengan Sang Bapa    dalam Dzat-Nya, yang melalui-Nya segala sesuatu baik di langit dan di bumi telah diciptakan” (maulûdu   ghayr al-makhlûqin, wâhidun ma’a al-Abi fî al-jau- har, alladzi bihi kâna kullu syai’in mâ fî al-samâ’i wa   mâ ‘ala al-ardh).[15]

Semua penegasan di atas menunjuk kepada Yesus sebagai Firman Allah yang satu dengan Allah, dan bukan ke-pada kemanusiaan Yesus Kristus, seperti yang sering disalah-pahami. Untuk lebih jelasnya, setelah menegaskan keilahian Sang Firman, konsili ekumenis juga mengeluarkan anathema terhadap ajaran Arius:

          أما أولئك  الذين يقولون: ” أنه كان وقت لم يكن هو كائنا”, “وأنه قبلما يولد لم يكن”, “وأنه من عدم الوجود جاء للوجود”, أو يؤكدون أنه من مادة أوجوهرآخر أومخلوق  أو متغير فالكنيسة المقد سة الجامعة الرسولية تعلن أنهم محرومون.      

Sedangkan tentang mereka yang berkata: “Pernah ada waktu dimana Firman belum ada”, atau “Sebelum dilahirkan, Dia tidak ada”, atau “Firman Allah itu berasal dari tidak ada kemudiaan menjadi ada” (creatio ex nihilo), dan juga mereka yang menyangkal bahwa Putra Allah mempunyai zat lain, atau dzat lain selain dari Allah”, atau “diciptakan”, atau “dapat berubah”, maka Gereja (Tuhan) yang kudus, jâmi’ah (‘am, universal) dan rasuli, dengan ini mengharamkan (tahrim) ajaran mereka”.[16]

 3.  Allah Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan

Kalau begitu, bagaimana menjelaskan gelar “Putra Allah” yang sering menjadi kendala dalam dialog teologis dengan Islam? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam pada saat kelahiran Islam.

Saya ingin menjelaskan metafora ini berdasarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara “bahasa teologis” Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman terhadap Iman Kristen semakin meruncing.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk menekankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yoh. 1:1-3. Ungkapan “Pada mulanya adalah Firman”, untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Allah sendiri, dan bukan wujud selain-Nya.

Selanjutnya, “Firman itu bersama-sama Allah”, menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah.  Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence),  yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada “Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya” (‘aql al-lâh al-nâtiqi, au nâtiq al-Lah al-‘âqli, fahiya ta’ni al-‘âqlu wa al-nâtiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen berbahasa Arab.

Sedangkan penegasan “dan Firman itu adalah Allah”, menekankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? “Tentu saja”, tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), “Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah (‘an ‘aql al-lâhi lâ yunfashilu ‘ana-llah)”.[17] Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, maka keesaan Allah (tauhid) secara murni kita pertahankan.

Ungkapan “Firman itu bersama-sama dengan Allah”, tetapi sekaligus “Firman itu adalah Allah”, bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya, yang tidak sama dengan Dzat Allah tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya.  Jadi, kata shifat  dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat atau karakter dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.

Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum dan sesudah zaman al-Asy’ari, hypostasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum, “pribadi” (jamak: aqânim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar.[18] Istilah dzat dan shifat tersebut dipentaskan-ulang dalam perdebatan kaum Suni dengan kaum Mu’tazilah yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana Konsili Nikea tahun 325 M mereaksi ajaran bid’ah Arius, seperti telah dikemukakan di atas. Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala yang ada di jagat raya: “Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan” (Yoh. 1:3).

Karena itu, jelaslah bahwa mempertahankan ke-ilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas tidak diarahkan al-Qur’an untuk Iman Kristen sejati: “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam” (Inna l-lâha huwa al-Masîh bnu Maryam). Q.s. Al-Maidah/ 5:75.[19] Jelaslah bahwa Iman Kristiani sejati tidak pernah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah.

Apabila umat Kristiani berusaha keras mempertahankan keilahian Yesus, sesungguhnya yang kita maksudnya adalah menegaskan keabadian Firman Allah yang selalu berada dalam Dzat Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan. Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Sabda atau Pikiran Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madâma al-Masîh huwa ‘aql  al-Lâh al-nâtiqi, idzan fahuwa al-lah, lianna ‘aql al-Lah ka’inu fî llahi mundzu azali). Dan sudah barang tentu, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum ia diciptakan),[20] seperti ditegaskan dalam rumusan Qânûn al-Imân (Syahadat Nikea/ Konstantinopel).

Secara logis, mustahillah kita  membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran tentang Allah Yang Mahaesa, yang berdiam sejak kadim sampai kekal bersama Firman dan Roh Kudus-Nya.[21] Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti “Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Sang Putra atau Firman-Nya” (cf. كيف يعلن الاب كل شىء مفصلا عن إبنه Risâlah Barnâbâ/Surat Barnabas 5:11).

Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. “Tidak seorang pun melihat Allah”, tulis Rasul Yohanes dalam Yoh. 1:18, “tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya”. Inilah makna tajjasad (inkarnasi). “Dengan inkarnasi Firman-Nya”, kata Anba Shenûda III, “kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging” (Allahu lam yarahu ahadun qathu fî lahutihi, wa lakinnahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).[22]

Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata seseorang  yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan Qânûn al-Imân (Syahadat Nikea/ Kons-tantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah “lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman” (Arab: al-mauludu min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah  jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.

Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan 2 makna  kelahiran (wiladah) Kristus itu, yaitu kelahiran kekal-Nya dari Bapa tanpa seorang ibu (milad azali min Ab bighayr jasadin qabla kulli duhur), dan serentak dengan itu kelahiran fisik-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa (wa milad akhara fî mal’i  al-zamân min umm bi ghayr ab).[23]

“Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu”, menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. “Tanpa seorang ibu”, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bighayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: lam yalid wa lam yulad (Allah tidak bernak dan tidak diperanakkan), karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah atau Firman Allah.

 Sebaliknya, “Lahir dari ibu tanpa bapa”, menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya “sebelum segala abad”. Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah. Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah.

Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah atau Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi.  Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada  dalam Allah dari kekal sampai kekal.

Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul  (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an Kalam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam al-nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam al-lafdzi (Sabda  Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an al-Karim dalam bahasa Arab yang serba terbatas.

Selanjutnya, sama seperti tubuh fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang “dibunuh dalam keadaannya sebagai manusia” (1 Pet. 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas  al-Qur’an tersebut. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, bahwa kematian itu tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. “Dia menderita”, kata Mar Yustin Syahid (menulis tahun 150 M), “bukan dalam tabiat ilahi-Nya (sebagai Firman Allah) yang dilahirkan dari Allah, yaitu dari Dzat Sang Bapa”.[24]

Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, teolog-teolog Kristen Arab  menerjemahkan istilah-istilah teologis itu dari bahasa Yunani dan Aram/ Suryani ke dalam bahasa Arab, baik sebelum maupun sesudah munculnya perdebatan ilmu Kalam dalam Islam, dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab, dan tetap memakai istilah-istilah teologis tersebut sampai sekarang.

4. The Lordship of Jesus Christ

Neum Hashem ladonay, Syev li-yaminî. Artinya: “Firman TUHAN kepada Tu(h)anku: Duduklah di sebelah kananKu” (Mazmur 110:1). Rabbi Yodan ber-kata atas nama Rabbi Ahan Bar Haninan: “Hashem Ha Qadosh Barukh Hu (TUHAN, Yang Maha Terpuji) akan menempatkan Sang Raja Mesiah duduk di sebelah kanan-Nya” (Yakut Shimoni Tehilim 110).[25]

Salah satu “batu sandungan” dalam percakapan teologis Kristen-Islam adalah masalah Ketu(h)an Yesus.  Mengapa seorang Nabi dipertuhan? Padahal sudah ditegaskan bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Begitu biasanya ungkapan Lâ ilaha ilallah biasanya diterjemahkan di Indonesia. Konkritnya, dalam bahasa Indonesia biasanya umat Islam tidak membedakan istilah Arab ilah (Inggris: God) dan Rabb (Inggris: Lord), keduanya diterjemahkan “Tuhan”. Malahan pula, pada umumnya dalam bahasa Indonesia lebih dikenal istilah Ketuhanan untuk kata Inggris “Godhead”, “Divine” (bandingkan: “Ketuhanan Yang Mahaesa”) ketimbang istilah “Keilahian” (Arab: Lahutiyah).

Penyamarataan itu sumber salah paham, sebab dalam Kristen cukup dibedakan makna Keilahian dan Ketuhanan dalam kaitannya dengan perbincangan tentang Keesaan Allah dalam Kristus. Maksudnya, sebutan “Tuhan Yesus” sama sekali tidak bermaksud mengadakan ilah selain Allah, atau menyejajarkan kemanusiaan Yesus Kristus dengan Allah. Yesus disebut Tuhan dalam makna Rabb (Gusti, Penguasa), karena Allah telah melimpahkan kuasa-Nya di langit dan di bumi (Mat. 28:20; Kis. 2:38; Flp. 2:11).

Seperti telah disebutkan di atas, kata “Tuhan” sejajar bahasa Ibrani Adonay dan bahasa Aram Marya. Meskipun dalam bahasa Yunani diterjemahkan Kyrios, tetapi penerapan gelar Mar, Marya bagi Yesus seperti tampak dari seruan liturgis tertua Maranatha,  membuktikan bahwa ide ketuhanan Yesus lebih dilatarbelakangi oleh ide Yahudi, ketimbang ide Yunani. Penerapan gelar Marya (Tuhan) bagi Yesus ini, misalnya, tertulis dalam Kis. 2:34-36 dalam bahasa Aram (Syriac) yang berbunyi:

34 ܠܐ  ܗܘܐ ܓܝܪ ܕܘܝܕ ܤܠܩ ܠܫܡܝܐ ܡܛܠ ܕܗܘ ܐܡܪ ܕܐܡܪ ܡܪܝܐ ܠܡܪܝ ܬܒ ܠܟ ܡܢ ܝܡܝܢܝ    
35 ܥܕܡܐ ܕܐܤܝܡ ܒܥܠܕܒܒܝܟ ܟܘܒܫܐ ܠܪܓܠܝܟ    
36 ܫܪܝܪܐܝܬ ܗܟܝܠ ܢܕܥ ܟܠܗ  ܒܝܬ  ܐܝܤܪܝܠ  ܕܡܪܝܐ               ܘܡܫܝܚܐ ܥܒܕܗ ܐܠܗܐ ܠܗܢܐ ܝܫܘܥ ܕܐܢܬܘܢ ܙܩܦܬܘܢ  

34Lâ hwâ geir dawid sleq lashmayâ mitol dehu emar: demar Maryâ le Mari, Ttev lak min yemini. 35’Adama desim belduvanik khuvshâ le ragleik. 36Sharirait ha keil neddak kulleh Beit Yisael de Maryâ wa Mashihâ ‘avdeh Alahâ lemanâ Yeshu’a de anton zegaphton.

Artinya: 34Bukan Daud yang telah naik ke surga, sebab dia sendiri malahan berkata: Firman Tuhan (Marya) kepada Tuanku (Mari), Duduklah kamu di sebalah kanan-Ku 35sampai Kubuat musuh-musuhmu di bawah tumpuan kaki-Mu 36Jadi seluruh keluarga Israel harus mengetahui bahwa Allah telah menjadikan Yesus yang  kamu salibkan itu sebagai Marya/Tuhan dan Meshiha/  Kristus (Kis. 2:34-36, Peshitta).

Mengingat term-term keagamaan dalam bahasa Indonesia banyak berasal dari bahasa Arab, cukup relevan kiranya kita simak pemikiran Idries Shah dalam The  Elephant in the Dark.[26] Penulis sufi ini menekankan pentingnya penggunaan bahasa Arab bersama-sama di lingkungan Kristen dan Islam, untuk terciptanya saling pengertian. Mencontohkan salah satu kendala dialog teologis Kristen-Islam, Idries Shah mengutip Geoffray Parrinder, dalam Jesus in the Qur’an,[27] yang mengingatkan pembaca berbahasa Inggris mengenai makna Ketuhanan Yesus (The Lordship of Jesus).

Yesus digelari sebagai Lord sebagai gelar penghormatan. Dalam bahasa Arab ditemui paralelnya as-Sayid (Gusti, Pangeran), suatu gelar yang juga diterapkan bagi Nabi Muhammad (Sayidina Muhammad). Karena itu, dengan tanpa masalah, M. Kamel Husayn dalam City of Wrong (aslinya ditulis dalam bahasa Arab: Qaryah dhalimah), yang menelaah kota suci Yerusalem pada hari Jum’at yang kudus (pada saat penyaliban Kristus) dari sudut pandang seorang Muslim, dan gelar Sayid al-Masih  (the Lord Christ) digunakan secara teratur.[28]

Kendati pun patut dicatat, kendati penerapan gelar as-Sayid  itu bagi Yesus maupun Muhammad dapat diperbandingkan, tetapi tidak sepenuhnya dapat disamakan. Maksudnya, alasan teologis di belakang penerapan gelar yang sama tersebut. Patut diketahui, dalam Alkitab bahasa Arab baik sebutan ar-Rabb dan as-Sayid sama-sama muncul sebagai terjemahan nama-nama Allah YHWH (Tuhan) dan Adonay (Tuhan).[29]

Apakah makna ketuhanan Yesus Kristus? Sebagaimana dikemukakan di atas, Iman Kristiani membedakan antara makna Keilahian Yesus (the Divine/Godhead of  Jesus) dan Ketuhanan Yesus (the Lordship of Jesus). Keilahian Yesus menunjuk sosok adikodrati-Nya sebagai Firman Allah “yang kekal bersama-sama Allah” (kâna hadza qadiman ‘indallah) dan selalu melekat  (qai’mah) dalam Dzat-Nya (Yoh. 1:1-3), sebanding dengan penghayatan teologi Islam mengenai al-Qur’an sebagai Kalam nafsî (Sabda Allah yang kekal). Meskipun demikian, keilahian Firman Allah tersebut dalam Iman Kristen tetap dibedakan dan tidak dicampurkan dengan wujud nuzul Yesus (‘Isa al-Masih) sebagai Manusia (1 Tim. 2:5; 1 Pet. 3;18).

Untuk lebih jelasnya, kita dapat melacak latarbelakang teologisnya dari penghayatan Yudaisme tentang Allah dan Sang Raja Mesiah yang akan datang. Dalam pengharapan mesianik Yahudi, salah satu gelar Mesiah yang akan datang adalah juga Adonay, “Tu(h)an”, seperti disebutkan dalam Maz. 110:1 yang berbunyi:

נאם יהוה לדני שׁב לימיני

Neum YHWH ladonay, Syav le yaminî.
Firman Yahwe (TUHAN) kepada Adonay (Tuanku): “Duduklah di sebelah kanan-Ku”.[30]

Perlu dicatat pula, bahwa menghubungkan Maz. 110 dengan Mesiah bukan hanya tradisi Kristen saja, tetapi sudah diawali lebih dahulu oleh tulisan-tulisan para rabbi sebelum zaman Kristen, maupun pada masa-masa sesudahnya sampai sekarang. Misalnya, seperti ungkapan Rabbi Yodan yang mengajar atas nama Rabbi Ahan Bar Haninan, bahwa TUHAN sendiri yang memanggil Raja Mesiah sebagai Adonay (Tuhan, Tuanku) dan akan menempatkan Mesiah itu di sebelah kanan-Nya. Tafsiran Yahudi ini, selain dijumpai dalam Yalkut Shimoni (Tehilim 110), tercatat juga dalam Nedarim 32b dan Sanhedrin 108b.[31]

Pemahaman Yahudi inilah yang melatarbelakangi khutbah Petrus dalam Kis. 2:36 yang kita kutip di atas, bahwa Allah sendirilah yang telah menjadikan Yesus sebagai Tu(h)an dan Kristus. Sekali lagi, Tuhan di sini bukan dalam makna ilah selain Allah, melainkan sebagai rabb (Penguasa) sesuai dengan pengharapan Yahudi di atas. Bagaimanakah makna lebih lanjut gelar Adonay (Tuhan) bagi Raja Mesiah di kalangan Kristen awal? Sebagaimana telah disinggung di atas, tradisi Yahudi (yang juga diikuti Yesus dan para Rasul-Nya) tidak mengeja Nama Diri (Ismu al-Dzat, “proper name”) Allah dalam bahasa Ibrani: YHWH (bacaan akademis yang diusulkan: Yahwe). Sebagai gantinya, namun tetap membiarkan empat huruf suci itu dalam Taurat, tetapi mereka membacanya ha-Syem (Sang Nama) atau Adonay (Yunani: Kyrios; Aram: Marya; Arab: Rabb atau Inggris: Lord). Pada akhirnya, Allah sendiri memberikan gelar itu kepada Yesus Sang Mesiah, Firman-Nya sendiri yang nuzul (turun) ke dunia. Karena itu Yesus bersabda: “Segala kuasa di surga maupun di bumi telah dilimpahkan kepadaKu” (Mat. 28:20).

Makna pelimpahan kekuasaan dalam Mat. 28:20 ini, sekalipun tidak persis sama, kira-kira sejajar dengan ungkapan al-Qur’an, s. Ali Imran/3:45 mengenai Yesus: Al-Masîh ‘Isa bnu Maryama wajihan fî al-dunya wa al-akhirah (Al-Masih ‘Isa putra Maryam yang terkemuka di dunia dan di akhirat). Nah, penerapan gelar Adonay bagi Sang Mesiah dalam Iman Kristen berarti melalui Mesiah-Nya Allah menyatakan ke-Tuhanan-Nya. Dalam makna ini, Yesus bi-idzinillah (dengan izin Allah) bergelar “Tuhan (Rabb) dan Kristus (al-Masih (Kis. 2:36), dan “Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Flp. 2:11).

Selanjutnya, gelar yang menurut harapan mesianik Yahudi akan diterapkan bagi Sang Raja Mesiah ini, juga berhubungan erat dengan ungkapan “duduk di sebelah kanan Allah”. Mengapa? Ungkapan simbolik ini muncul dalam kaitan dengan pola bangunan Bait Suci (Ibrani: Beyt hammiqdash, Arab: ”Bayt al-Maqdis) dimana istana raja-raja keturunan Daud berada di sebelah selatan Ruang Mahakudus (devir) Bait Allah yang menghadap ke timur. Ini berarti istana Daud ber-ada “di sebelah kanan”  ruang mahakudus  yang melambang-kan kehadiran (shekinah) Allah. Jadi, maksud firman dalam Maz. 110:1  שׁב לימיני  Syev li-yamini (Duduklah di sebelah Kanan-Ku), bahwa TUHAN telah memberikan kekuasaan-Nya kepada Raja Mesiah kekal selama-lamanya.

5. Makna Ganda Tu(h)an: Keterbatasan Bahasa

Tinggal masalah terakhir adalah soal salahfaham dalam bahasa, karena bahasa Indonesia tidak mengenal satu kata bermakna ganda, sebagaimana istilah Adonay, Marya, Kyrios, Rabb, Lord atau Gusti. Karena itu, dalam penulisan-penulisan makalah saya di beberapa forum Islam saya me-naruh 2 tanda kurung diantara aksara (h) pada kata Tuhan. Karena penulisan ini saya sering disalahfahami, seolah-olah saya meragu-ragukan Ketuhanan Yesus. Padahal sama sekali bukan itu maksud saya, dan untuk itu perlu saya menjelaskan di sini.

Sebagaimana sudah saya singgung di muka, kata Tuhan dalam bahasa Indonesia pada umumnya lebih paralel dengan God, Ilah, Deus, Theos. Nah, seorang non-Kristen tidak mungkin bisa memahami ungkapan dalam bahasa Indonesia bahwa Tuhan telah mati, karena latarbelakang tersebut di atas. Padahal, seorang bisa menerapkan hal itu pada bahasa-bahasa lain yang paralel: Adonay, Marya, Lord  atau Gusti, yang bisa bermakna Tu(h)an, maksudnya baik Tuan maupun Tuhan. Ungkapan “Tuhan sudah mati”, bagi pemakai bahasa Indonesia pada umumnya sama saja maknanya bila orang Kristen berkata “Allah sudah mati”. Nah, padahal kematian Yesus itu sama sekali tidak menyentuh keilahianNya sebagai Firman Allah. Rasul Petrus menyaksikan dengan jelas bahwa Yesus “telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia” (1 Pet. 3:18).

Padahal dalam diri Kristus, sekalipun telah dipersatukan kodrat ilahi dan kodrat insani sekaligus menjadi “satu pribadi” (rumus Kalsedonia) atau “satu kodrat ganda” (rumus non-Kalsedonia), dimana antara Firman Allah dan kemanusiaan-Nya “tidak berbaur dan tidak berubah”. Jadi, kematian tubuh yang dikenakan oleh Firman Allah tidak menyentuh sama sekali keilahian-Nya yang kekal. Meskipun demikian, Allah yang kita sembah bukan ilah yang bersifat impalbilitas, seperti dewa-dewa Yunani yang diam, dingin dan apatis (tanpa rasa). Sebab itu sebaliknya, antara kemanusiaan dan ke-ilahianNya sebagai Firman Allah juga “tidak terbagi dan tidak terpisah”. Maksudnya, sekalipun Firman Allah sama sekali tidak merasakan atau dapat disentuh maut, tetapi dengan kematian tubuh insani Yesus itu Allah turut “berbela-rasa” umat-Nya.

Hal itu bisa dibaratkan bendera kerajaan adalah kebanggaan seorang raja, ketika bendera itu diinjak-injak pasukan musuh, hati raja itu terasa tercabik-cabik, meskipun tubuh raja itu sama sekali tidak terluka.[32] Jadi, sekalipun Allah tidak dapat mati, tetapi dalam kasih-Nya “turut merasakan” kematian Yesus Putra-Nya. “Kuduslah Engkau, Ya Yang Tidak dapat mati” (Quddûsu anta, yâ  ghayr al-mâti), demikian kidung Trisagion bahasa Arab yang dinyanyikan di Gereja Ortodoks Syria, “yang telah disalibkan bagi kami, kasihanilah kami! (Yâ man shulibta ‘ana irhamnâ).[33]  Dengan demikian, Firman Allah yang satu dengan Allah (Yoh. 1:1), yang tidak berkematian, satu dengan wujud inkarnasi-Nya sebagai manusia, yang dapat menderita dan mati. Kesatuan itu unik sedemikian rupa, tanpa berbaur tanpa berubah, dan  tanpa terbagi, tanpa terpisah. ¶

Daftar Kepustakaan

‘Abd al-Lâh, Mâhir Yûnân. Al-Thawâ’if al-Masîhiyyat fî Mishra wa al-‘âlam (Al-Qâhirah: al-Nâsyir Mâhir Yûnân ‘Abdu llâh, 2001).
Aland, Nestle. (ed.), Novum Testamentum Graece (Stuttgart: Deutsche Bibelstiftung, 1981), hlm. 131.
Al-Kitâb al-Muqaddas. Ay Kutub al-‘Ahd al-Qadîm wa al-‘Ahd   al-Jadîd
(Beirut: Dâr al-Kitâb al-Muqaddas fî asy Syarq al-Ausath, 1993).
Donin, Rabbi Hayim Halevy. To Be A Jew: A Guide to Jewish    Contemporary Life (Jerusalem: Basic Book, 1996).
Fisch, Harold (ed.), Torah Nevi’m Ketuv’im – The Jerusalem    Bible (Jerusalem: Koren Publishers Jerusalem Ltd.,   1992).
Gaudeul, Jean-Marie. Encounter and Clashes: Islam and Christianity in History. Vol. 2, Texts. Rome: Pontificio Institutio di Arabi et Islamici/PISAI, 1984).
Ibrâhîm, Gregorius Yuhanna (ed), Shalûli-Ajlinâ: Khidmat al-Quddas wa Shalawat Syatta (Halab/Allepo: Dâr al- Raha lil Nasyir, 1993).
Jansen, J.J.G. Diskursus Tafsir al-Qur’an Modern. Alih Bahasa: Hairussalaim dan Syarif Hidayatullah (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1997).
Jibrân, Jibrân Khalîl.  An-Nabî  (Cairo:  Dâr asy Syarûq, 2004).
Lighfoot , J.B. – J.R. Hermer, J.R. (ed.), The Apostolic Fathers. Greek texts with Introduction and English Translations (Michigan: Baker Book House, 1984).
Malathî, Tadrus Ya’qub. Al-Qidîs Ignâthius al-Anthâkî  (Cairo: Markaz al-Delta li al-Nasyr, 2003).
Mingana, A. The Apology of Timothy The Patriarch before       The Caliph Mahdi. With Introduction by Rendel Harris, Woodbrooke Studies 2, Cambrige, 1923.
Muhammad, Hasyim. Kristologi Qur’ani: Telaah Kontekstual  Doktrin Kekristenan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Nasr, Seyyed Husein. Ideals and Realities of Islam (Cairo: American University of Cairo, 1989).
Noorsena, Bambang. Telaah Kritis Injil Barnabas (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1990).
Parrinder, Geoffray. Jesus in The Qur’an (New York: Oxford University Press, 1977).
O’disho, Mar. The Book of Marganitha: The Pearl on the Truth of Christianity. Translated from the Aramaic Original by Mar Eshai Shimun XXVI (Chicago: Committee of the Assyrian Chuch of the East, 1988).
Old Syriac Gospels
, dalam www.suduva.com
Qyama hadatsa – Ha Brit ha Hadasyah: The New Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Translation   
(Jerusalem: The Bible Society in Israel and the Aramaic Scriptures Research Society in Israel, 1986).
Robert, Alexander – Donaldson, James (ed.), The Writings of   the Father Down to AD. 325: Ante-Nicene Fathers. Vol. I (Peabody, Massachusetts: Hedrickson Publishers, 1995).
Santala, Risto. Al-Masîh fî al-‘Ahd al-Qadîm (Cairo: Key Media, 2003).
Schumann, Olaf. Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana, 1992).
Shah, Idries.  Meraba  Gajah dalam Gelap: Sebuah Upaya Dialog Kristen   Islam.  Jakarta: Pustaka Grafiti Pers, 1986).
Shenuda III, Anba. Lâhût al-Masîh (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2004).
___________ , Qânûn al-Imân (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003.
______________, Al-Agabiya: Al-Sab’u ash-Shalawât al-Nahâri-      yyah wa al-Lailiyyah (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 78-80.
Swanson, Mark N. Folly to the Hunafa’: The Cross of Christ in Arabic Christian-Muslim Controversy in Eighth and Ninth Centuries AD. Rome: PISAI, 1995).
Timotius I, Mar. Dafâ’iyyâtu Masîhiyyati fî al-‘Ashar al- ‘Abâsî al-Awwal (Villach, Austria: Light of Life, tanpa tahun).
Yuqarin, Maurice. Târîkh al-Kanîsah: Juz I – Al-Majâmi’ al-Maskûniyyat al-Awwal wa al-Ghazawat al-Kubra (Ma’adi, Cairo: Mansyûrat al-Ma’had, 1966). ¶

 Lampiran 1:

قنون الامان المقدس

Qânûn al-Îmân Konsili Nikea (325)[34]

    “نؤمن بإله واحد, آب ضابط الكل, خالق جميع الأثياء المنظورة وغير المنظورة, وبرب واحد يسوع المسيح ابن الله الواحد المولود من الآب, أى من جوهر الآب, إله من إله, نورمن نور, إله حق من إله حق, مولود, غير مخلوق,  مساو للآب فى الجوهر, به كان كل شىء, ما فى السماء وما على الأرض, الذى من أجانا, نحن البشر ومن أجل خلاصنا نزل, وتجسد, وصار إنسانا, وتألم, وقام فى اليوم الثالث , وصعد إلى السماوات وسوف يأتى ليدين الأحياء والأموات وبالروح القدسز”

 « إن الذين يقولون: “كان وقت لم يكون فيه”, و ” قبل أن يولد لم يكن”, و “قد خلق من العدم” أو يجاهرون بأن ابن الله هو من ذات أخرى, أو من جوهر آخر, أو أنه مخلوق أو قابل للتغير والفساد , فإن الكنيسة الكاثوليكية الرسولية تحرمهم ».

Artinya:  “Kami percaya kepada satu-satunya Ilah (Allah), Sang Bapa, Pencipta segala sesuatu, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu-satunya Tuhan (Rabb), Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal,  yang dilahirkan dari Bapa, yaitu dari Dzat Sang Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati, dilahirkan dan bukan diciptakan, yang sehakikat dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya, yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan, segala yang ada di langit dan yang di atas bumi,  yang demi kita Manusia, dan demi keselamatan kita, telah nuzul  (turun) dan menjelma, dan menjadi manusia, yang menderita, dan bangkit pada hari ketiga, dan naik ke surga, dan akan datang kembali untuk menghakimi orang hidup dan orang mati, dan kami percaya kepada Roh Kudus.

Sedangkan tentang mereka yang berkata: “Pernah ada waktu dimana Firman belum ada”, atau “Sebelum Dia dilahirkan, Ia tidak ada”, atau “Firman Allah itu berasal dari tidak ada kemudiaan menjadi ada” (creatio ex nihilo), dan juga mereka yang menyangkal bahwa Putra Allah mempunyai zat lain, atau dzat lain selain dari Allah”, atau “diciptakan”, atau “dapat berubah”, maka Gereja yang kudus, universal dan rasuli, mengharamkan (tahrim) ajaran mereka”. ¶

 

Lampiran 2:

قنون الامان المقدس

 Qânûn al-Îmân

Konsili Konstantinopel (381)[35]

 

 

نؤمن    بإله    واحد   الله   الآب   ضابط    الكل,    خالق    السماء

و الأرض,  كل ما يرى و ما  لا يرى.

 و برب واحد  يسوع المسيح ابن الله  الوحيد, المولود من  الآب  قبل كل الدهور,    نور من نور, اله حق من اله حق,  مولود غير مخلوق,   مساو للآب   فى الجوهر, الذي به كان كل شيء.  هدا الذي من  أجلنا  نحن  البشر,  و من أجل خلاصنا,  نزل من السماء. و تجسد بقوة  الروح القدس,  من مريم  العذراء  وتأنس,   وصلب  عنا على عهد  بيلاطس  البنطي,  تألم  ومات  وقبر, وقام من الأموات في اليوم الثالث كما في  الكتب,   وصعد  إلى  السموات, وجلس عن  يمن الآب,  وأيضا سيأتي  في مجده ليدين الأحياء والأموات,  الذي لا فناء  لملكه  انقضاء.

 بالروح القدس,  الرب المحيي,  المنبثق من الآب, تسجد لهو نمجده مع الآب والابن, الناطق بالأنبياء. وبكنيسة واحدة مقدسة جامعة رسلية. ونعترف بمعمودية واحدة لمغفزة الخطايا, و ننتظر قيامة الأموات,  وحياة الدهر الآتي. آمين.

Artinya: “Kami percaya kepada satu-satunya Allah, Allah Sang Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.

Dan kepada satu-satu Tuhan (Rabb), Yesus Kristus Putra Allah yang Tunggal, yang dilahirkan dari Sang Bapa sebelum segala abad, Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah Sejati, dilahirkan dan bukan diciptakan, yang sehakikat dengan Allah dalam Dzat-Nya yang Esa, yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan. Untuk kita manusia dan demi keselamatan kita, telah nuzul dari surga, dan menjelma dengan kuasa Sang Roh Kudus dan dari Perawan Maryam, dan telah menjadi manusia. Yang disalibkan demi kita pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, menderita, wafat dan dikuburkan. Dan yang telah bangkit kembali pada hari ketiga, sesuai dengan kesaksian Kitab-kitab Allah, naik ke surga, dan duduk di sebelah kanan Sang Bapa, dan yang akan datang kembali dari sana dalam kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, yang kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Kami percaya kepada Sang Roh Kudus, yang menjadi Tuhan Pemberi Hidup, yang keluar dari Sang Bapa, dan yang bersama dengan Sang Bapa dan Sang Putra disembah dan dimuliakan, dan yang memberi wahyu kepada nabi-nabi. Kami percaya kepada gereja yang satu, universal, dan Rasuli. Kami mengakui satu baptisan untuk pengampunan segala dosa, dan juga menantikan kebangkitan orang-orang mati, dan kehidupan baru di alam yang akan datang,  Amin.  ¶


[1]S. ‘Akâsyah, “Muqadimah” pada buku Jibrân Khalîl Jibrân, An-Nabî  (Cairo: Dâr asy Syarûq, 2004), hlm. 65.
[2]Cf. Risâlatu al-Qidîs Bûlus al-Awwal ila Ahli Kûrinthus 8:4-6/1 Kor. 8:4-6 dalam bahasa Arab berbunyi:

و أنْ لا إلهَ إلاَّ اللهُ الأحدُ . و إذا كان في السَّماءِ أو في الأرضِ ما يَزعمُ النَّاس أنّهم آلهةٌ, بل هناك كثير منْ هذِهِ الآلهةِ  و الأربابِ, فلنا نحنُ إلهٌ واحدٌ و هو الآبُ الذي منه كلُّ شيءٍ  و إليهِ نَرْجِعُ, و ربٌّ واحدٌ  وَهُوَ يَسُوعُ المسيحُ الذي بِهِ كلُّ شيءٍ وبه نح                                                   

Wa ‘an lâ ilaha illa al-Lâh al-ahad. Wa idza kâna fî as-samâ’i au fî al-ardhi mâ yaz’amu al-nnâsi annahum alihatun, bal hunâka katsirun min hadzihi al-alihati wa al-arbâbi. Falanâ nahnu ilahun wâhidun wa huwa al-Abu alladzi minhu kullu syai’in wa ilaihi narji’u, wa rabbun wâhidun wahuwa Yasu’ al-Masîh alladzi bihi kullu syai’in wa bihi nahyâ.

Artinya: “Dan tidak ada ilah selain Allah yang esa. Dan sungguhpun ada yang disebut oleh manusia ilah-ilah di langit dan di bumi, dan memang disana ada banyak ilah-ilah dan tuhan-tuhan, namun bagi kita hanya ada satu Ilah (sembahan) yaitu Sang Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya pula kita kembali, dan hanya ada satu Rabb (Tuhan, Penguasa) yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya telah diciptakan segala sesuatu, dan yang karena Dia kita hidup”. Al-Kitâb al-Muqaddas. Ay Kutub al-‘Ahd al-Qadîm wa al-‘Ahd al-Jadîd (Beirut: Dâr al-Kitâb al-Muqa-ddas fî asy Syarq al-Ausath, 1993).

[3]Lihat juga: J.J.G. Jansen, Diskursus Tafsir al-Qur’an Modern. Alih Bahasa: Hairussalaim dan Syarif Hidayatullah (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1997), hlm. 2-3.
[4]Hasyim Muhammad, M.Ag.  Kristologi Qur’ani: Telaah Kontekstual  Doktrin Kekristenan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 179-181. Mengenai perbandingan ‘Isa dengan Al-Qur’an sebagai Fir-man Allah, Seyyed H. Nasr, seorang pemikir Muslim yang terkenal dari Iran menulis:
“The Word of God in Islam is the Qur’an, in Christianity it is Christ. The vehicle of the divine message in Christianity is the Virgin Mary, in Islam is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of the divine message must be pure and untained. The Divine Word can only be written on the pure and “untouched” tablet of human receptivity. If this Word is the form of flesh the purity is symblolized by the virginity of the mother who gives birth to the word, and if it is in the form of a book this purity is symbolized by  the unlettered nature of the person who is chosen to announce this word among men”. Seyyed Husein Nasr, Ideals and Realities of Islam (Cairo: American University of Cairo, 1989), hlm. 43-44.
[5]Lih. Qyama hadatsa – Ha Brit ha Hadasyah: The New Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Translation (Jerusalem: The Bible Society in Israel and the Aramaic Scriptures Research Society in Israel, 1986).
[6]Sejak Perjanjian Lama diterjemahkan dalam bahasa Aram, tetagramaton YHWH sudah diterjemahkan Marya. Begitu juga, teks-teks Syriac/Suryani Perjanjian Baru yang lebih tua dari Peshitta (Old Syriac Gospels), menerjemahkan Mark. 12:29 tidak berbeda: ܥܢܐ ܝܫܘܥ ܘܐܡܪ ܩܕܡܝ ܡܢ ܟܘܠܗܘܢ ܫܡܥ ܐܝܣܪܝܠ ܡܪܝܐ ܐܠܗܢ ܚܕ ܗܘ cf. “Old Syriac Bible”, dalam www.suduva.com  Perjanjian Baru dalam teks asli bahasa Yunani juga menerjemahkan “nama yang pantang terucapkan” itu menjadi Kurios (Tuhan). Jadi, seluruh tradisi gereja awal tidak pernah mempertahankan nama ilahi itu secara harfiah dalam bahasa Ibrani. Kutipan Ul. 6:4 dalam teks asli Mrk. 12:29 berbunyi: Akoue Israel Kurios ho Theos hemon, Kurios eis estin. Lih. Nestle-Aland (ed.), Novum Testamentum Graece (Stuttgart: Deutsche Bibelstiftung, 1981), hlm. 131.
[7]Yes. 64:8. Liturgi Yahudi juga mengenal doa yang menyeru Allah sebagai: Avinu Syeba syemayim (Bapa Kami yang di surga).  Rabbi Hayim Halevy Donin, To Be A Jew: A Guide to Jewish Contemporary Life (Jerusalem: Basic Book, 1996).
[8]Risto Santala, Al-Masîh fî al-‘Ahd al-Qadîm (Cairo: Key Media, 2003), hlm. 59.
[9]“Epistle of St. Policarp”, dalam J.B. Lighfoot – J.R. Hermer (ed.), The Apostolic Fathers. Greek texts with Introduction and English Translations (Michigan: Baker Book House, 1984), hlm. 195.
[10]“The Epistle of St. Ignatius to Magnesians (VIII)”, dalam  J.B. Lighfoot – J.R. Harmer (ed.), Op. Cit., hlm. 114.
[11]“The Epistle of St. Ignatius to Ephesians (VII)”, dalam Ibid, p. 107. cf. Tadros Ya’qub Malathî, Al-Qidîs Ignâthius al-Anthâkî  (Cairo: Markaz al-Delta li al-Nasyr, 2003), hlm. 13.
[12]Dokumen yang disebut Risâlah Barnâbâ ini sangat dihormati di gereja-gereja kuno, bersama dengan dokumen-dokumen post-rasuli yang lain, seperti misalnya: Gembala Hermas, Didache, surat-surat Ignatius, Ke-syahidan Polikarpus, dan sebagainya. Risâlah Barnâbâ/Epistle of Barnabas  (ditulis 90-120) dan Qishah Barnâbâ/Acts of Barnabas (dari abad ke-5 M) harus dibedakan dengan dokumen palsu berbahasa Itali dan Spanyol dari abad ke-16 M yang berjudul Injîl Barnâbâ/The Gospel of Barnabas. Lihat pembahasan dokumen ini dalam buku saya: Bambang Noorsena, Telaah Kritis Injil Barnabas (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1990).
[13]Alexander Robert – James Donaldson (ed.), The Writings of the Father Down to AD. 325: Ante-Nicene Fathers. Vol.  I (Peabody, Massachu-setts: Hedrickson Publishers, 1995). hlm. 193-194.
[14]Mâhir Yûnân ‘Abd al-Lâh, Al-Thawâ’if al-Masîhiyyat fî Mishra wa al-‘âlam (Al-Qâhirah: al-Nâsyir Mâhir Yûnân ‘Abdu llâh, 2001), hlm. 35-36.
[15]Ibid.
[16]Ibid.
[17]Anba Shenuda III, Lâhût al-Masîh (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2004), hlm. 8-9.
[18]Ungkapan jauhar sebagai terjemahan kata Yunani ousia disebut dalam karya apologet Kristen Theodore Abû Qurrah (awal abad ke-8 M), penerus Yuhanna Mansyur al-Dimasyqî, yang hidup pada permulaan dinasti ‘Ummayyah, antara lain berbunyi: Wa nahnu naqûlu inna l-ibna al-azalî al-maulûdu min al-Lâhi qabla kulli al-duhûr alladzî huwa min jauhari l-Lâh. “Dan kami berkata bahwa sesungguhnya Sang Putra yang kekal dilahirkan dari Allah sebelum segala abad, yaitu Ia yang dilahirkan dari jauhar Allah” (Mark N. Swanson, Folly to the Hunafa’: The Cross of Christ in Arabic Christian-Muslim Controversy in Eighth and Ninth Centuries AD. Rome: PISAI, 1995), hlm. 77. Selanjutnya, dzat dan shifât sebagai terjemahan dari ousia dan hypostasis dapat dibaca dalam karya apologet Kristen yang hidup zaman ‘Abbasiyyah, ‘Abd al-Masîh al-Kindi (wafat 830) sebagai berikut: Fa amma shifâtu dzâtihi tabâraka wa ta’alâ dzu kalimatu wa rûh azalî. “Sedangkan sifat Dzat-Nya, Maha Terpuji dan Mahatinggi Allah, adalah mempunyai Firman dan Roh yang kekal”. Sedangkan hypostasis ju-ga diterjemahkan uqnum (jamak: aqânim, dari bahasa Aram/Suryani: qno-ma), misalnya, dijumpai dalam karya Elias dari Nasibin: Inna llâha jauhar wâhid tsalâtsatu aqânim. “Sesungguhnya Allah itu jauhar esa dan tiga uqnum” (Jean-Marie Gaudeul, Encounter and Clashes: Islam and Christi-anity in History. Vol. 2, Texts. Rome: Pontificio Institutio di Arabi et Islamici/PISAI, 1984), hlm. 55-57, 77.
[19]Kiranya ayat ini lebih cocok diarahkan kepada sebuah bentuk “mujjasimah (anthropomorfisme) bid’ah Kristen” yang menganggap Yesus dan Maryam adalah dua ilah disamping Allah, padahal kedua-duanya mela-kukan aktivitas manusiawi, seperti “keduanya memakan makanan” (Q.s. al-Maidah/ 5:75, “…kâna ya’-kulani th-tha’âm). Padahal dalam Iman Kris-ten, fakta bahwa Yesus melakukan aktivitas-aktivitas manusiawi sangat ditekankan, bersamaan dengan penekankan ke-“bukan makhluq”-an Fir-man Allah, yang secara khusus ber-“shekinah” (berdiam) dalam diri Yesus (Yoh. 1:14).
[20]Ibid,  hlm. 9.
[21]Ibid,  hlm. 9.
[22]Ibid.
[23]Anba Shenûda III, Qânûn al-Imân (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003, hlm. 46-47.
[24]Mar O’disho, The Book of Marganitha: The Pearl on the Truth of Christianity. Translated from the Aramaic original by Mar Eshai Shimun XXVI (Chicago: Committee of the Assyrian Chuch of the East, 1988), hlm.  106.
[25]Risto Santala, Op. Cit.,  hlm. 125.
[26]Idries Shah,  Meraba  Gajah dalam Gelap: Sebuah Upaya Dialog Kristen   Islam.  Jakarta: Pustaka Grafiti Pers, 1986), hlm. 42.
[27]Geoffrey  Parrinder,  Jesus in The Qur’an (New York: Oxford University Press, 1977), hlm. 33-34.
[28]Pembahasan mengenai buku ini, lihat: Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana, 1992), hlm. 165-190.
[29]Apabila nama YHWH muncul berdiri sendiri (dibaca: Adonay, LAI: TUHAN) dalam bahasa Arab diterjemahkan ar-Rabb (dengan kata san-dang Al), tetapi apabila kedua kata muncul bersamaan: YHWH Adonay diterjemahkan: Ar-Rabb as-Sayid (Hab. 4:19, LAI: “ALLAH Tuhanku”). Se-dangkan YHWH Elohim dalam bahasa Arab diterjemahkan: Ar-Rabb al-Ilah (Kej. 2:4, LAI: “TUHAN Allah”).
[30]Teks asli Ibrani bisa dibaca dari terbitan Yahudi sendiri: Harold Fisch (ed.), Torah Nevi’m Ketuv’im – The Jerusalem Bible (Jerusalem: Koren Publishers Jerusalem Ltd., 1992).
[31]Risto Santala, Loc. Cit.
[32]Perumpamaan yang indah ini dipakai oleh Mar Timotius I, Pemimpin tertinggi Gereja Assyria Timur yang waktu itu berpusat di Bagdad, dalam dialognya dengan Kalifah al-Mahdi tahun 781, seperti dicatat dalam bukunya Dafâ’iyyâtu Masîhiyyati fî al-‘Ashar al-‘Abâsî al-Awwal (Villach, Austria: Light of Life, tanpa tahun). Sedangkan terjemahan bahasa Inggris, bisa dibaca: A. Mingana, The Apology of Timothy The Patriarch before The Caliph Mahdi. With Introduction by Rendel Harris, Woodbrooke Studies 2, Cambrige, 1923.
[33]Gregorius Yuhanna Ibrâhîm (ed), Shalû   li-Ajlinâ: Khidmat al-Quddas wa Shalawat Syatta (Halab/Allepo: Dâr al-Raha lil Nasyir, 1993), hlm. 42.
[34]Dikutip dari Maurice Yuqarin, Târîkh al-Kanîsah: Juz I – Al-Majâmi’ al-Maskûniyyat al-Awwal wa al-Ghazawat al-Kubra (Ma’adi, Cairo: Mansyûrat al-Ma’had, 1966), hlm. 15.
[35]Dikutip dari Baba Shenuda III (ed.), Al-Agabiya: Al-Sab’u ash-Shalawât al-Nahâriyyah wa al-Lailiyyah (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 78-80.

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
JA
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Qânûn al-Îmân

Konsili Nikea (325)[1]


                [1]Dikutip dari Maurice Yuqarin, Târîkh al-Kanîsah: Juz I – Al-Majâmi’ al-Maskûniyyat al-Awwal wa al-Ghazawat al-Kubra (Ma’adi, Cairo: Mansyûrat al-Ma’had, 1966), hlm. 15.

Impian Menuju Pluralisme

Sabtu (3/12) pukul 09.00 WIB, terlihat banyak mahasiswa dari berbagai jurusan mulai memadati ruangan AVT 502 Gedung T, Universitas Kristen Petra. Tidak hanya itu saja, tetapi juga terlihat beberapa anggota perwakilan dari berbagai institusi, dari gereja-gereja lokal, dan bahkan dari NU (Nahdatul Ulama).

Acara seminar Wawasan Kebangsaan yang bertema “Merawat kehidupan bangsa yang harmonis di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia” ini diadakan karena melihat banyaknya kejadian di dunia yang dapat memicu pertikaian kemajemukan masyarakat, tidak terkecuali dalam masyarakat Indonesia sendiri.

Dipandu oleh Daniel Rohi, ST., M.Eng.Sc., acara ini dimulai dengan doa dan perkenalan para pembicara, yaitu Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H.,M.A., Bambang Noorsena, S.H., MA., dan Ulil Abshar Abdalla seorang cendekiawan Muslim.

Menurut Ulil sendiri, kekerasan yang dipicu oleh kemajemukan kebudayaan harus dapat kita lihat secara objektif. “Kekerasan tersebut merupakan wujud resistensi dari masyarakat yang pada awalnya merupakan masyarakat yang homogen, dalam artian memiliki kebudayaan dan kepercayaan yang sama; dan tiba-tiba saja mereka menemui berbagai kebudayaan dan kepercayaan yang asing. Dalam hal ini dibutuhkan strategi untuk menghilangkan sikap intoleransi tersebut, yaitu dengan cara membangun Pluralisme, sikap dan pengetahuan positif terhadap kemajemukan,” tutur cendekiawan Muslim yang juga anggota partai Demokrat tersebut.

Menurut Bambang Noorsena, hak-hak manusia haruslah tetap dipegang teguh, terutama di negara Indonesia yang berideologi Pancasila ini, di mana hak-hak beragama secara bebas seharusnya dilindungi dan dijamin oleh perundang-undangan negara Indonesia. “Pembunuhan fisik diawali oleh pembunuhan teologis, yaitu hak hidup orang lain yang tidak seiman dengan kita. Tidak ada kejahatan yang lebih kejam daripada kejahatan atas nama agama, karena meskipun telah membunuh, para pembunuh tersebut malah merasa berjasa untuk Tuhan,” lanjut Bambang.

Sedangkan menurut Sahetapy, rusaknya kemajemukan di masyarakat adalah tanggung jawab dari pemimpin-pemimpin bangsa juga. “Di Indonesia terjadi berbagai kesulitan moral dan politik, kekerasan di mana-mana, dan juga korupsi yang semakin merajalela. Masyarakat saat ini masih belum berani mengkritik para pemimpin sendiri. Padahal sebenarnya yang salah bukan hanya pelaku tindakan-tindakan tersebut, namun inipun merupakan tanggung jawab dari pemimpin bangsa ini yang mengangkat mereka menjadi penjabat-pejabat tersebut,” tegas Sahetapy.

Lebih jauh lagi, para pembicara berharap bahwa masyarakat harus belajar untuk menerima perbedaan yang ada, tidak sebagai pembeda tetapi pemersatu sehingga dapat menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, dan rukun. (Indra)

Pemilu Menuju Indonesia Satu

Jakarta(09/04): Goyang, goyang, dan goyang. Nyaris tak ada partai yang tak mengusung dangdut bahkan terkadang goyang erotis pada kampanye pemilu legislatif 2009 yang berakhir 5 April lalu. Fenomena ini dinilai pengamat politik sebagai indikasi semakin tidak jelasnya idiologi partai peserta pemilu kali ini. Tak peduli itu partai berbasis agama maupun partai berbasis plural atau nasionalis.

Di luar goyang dangdut, kampanye partai politik tahun ini dipenuhi silat lidah para petinggi dan juru kampanye. Obral janji serta saling serang antarlawan politik adalah hal biasa. Tapi nadanya sama. Semua tampak kian pragmatis. Yang ironis, setelah goyang dangdut, terkadang muncul adu sikut sesama peserta kampanye. Masa hingar-bingar kampanye telah lewat. Satu demi satu atribut partai dan caleg diturunkan.

“Apakah ini gejalan penurunan kualitas demokrasi kita” kata budayawan, Bambang Noersena. Dia menambahkan kalau politisi di Tanah Air cenderung pragmatis. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Komaruddin Hidayat meminta pesta rakyat ini tidak dilanjutkan dengan pertengkaran. “Ibarat rumah besar, pemilu itu pilar. Kalau pilarnya roboh, maka negara juga akan roboh,” kata Komaruddin Hidayat.

Dari satu pemilu ke pemilu berikutnya, partai berbasis agama kian kehilangan dukungannya. Pada pemilu pertama 1955, gabungan partai-partai berbasis agama Islam memperoleh 43,7 persen suara sedangkan partai-partai berbasis nasionalis mendapat 51,7 persen suara. Pada pemilu 1999, total suara partai berbasis agama anjlok jadi hanya 36,8 persen. Sedangkan pada Pemilu 2004, sedikit meningkat menjadi 38,1 persen.

“Makin hari orang memilih partai atau figur bukan berdasarkan simbul dan latar belakang tetapi memilih berdasarkan apa yang sudah dikerjakan, yang lagi dikerjakan dan akan dikerjakan,” kata Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan. Selengkapnya perbicangan antara Anies Baswedan, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua PDS Ruyandi Hutasoit, Komaruddin, dan Bambang dapat disaksikan di video Barometer edisi 8 April 2009

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”

Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA

1. Catatan Pengantar

Fenomena sukses film “Ayat-ayat Cinta”, arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton karena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu”, karena penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo”, tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan “secara sambil lari” dalam film ini.

2. Sekilas Film “Ayat-ayat Cinta”

Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:

Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-Qur’an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengutarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa “ayahnya”, dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tuduhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pendekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.

Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, “ayah”nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil”-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia terbaring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia “membagi cinta” dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas restunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras “menjaga hati”. Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. “Ajarilah aku shalat”, ucap Maria kepada Fahri, “karena aku ingin shalat bersama kalian”. Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.

3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir – Selayang Pandang

Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Petrus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di “Negeri Firaun” itu.

Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdampingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shalawat) [4], Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari [5], membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-yang paralel dengan Tilawat al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib di tangan [6] sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.

Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya diawali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Rajiun (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.

4. Resensi atas Novel dan Film “Ayat-ayat Cinta”

Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat disampaikan dalam film ini:

4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya

Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: “bisyur’ah” (cepat!), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih “Egypt” nuansanya, bila ia berkata dengan penekanan: “Yala, yala, bisyur’ah, Ya Maria!”, misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan “melankolis”. Ketika ia mengucapkan “Afwan” (terima kasih kembali), menjawab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakan keranjang kecil dari jendela kamarnya: “Musyakirin awiala ashir Manggo” (Terima kasih banyak atas juice mangga) [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: “Afwan Ya Habibi!”.

Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus ‘Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu “Saudi Arabia”: Qomus Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal Indonesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih “fushah” (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.

Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: “Khalash! Khalash!” (sudah, sudah!), lebih “Mesir” lagi kalau diucapkan: “Khalash, khalash ba’ah!”. Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara “La, la, la” (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari telunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan “ahlan”, biasanya diucapkan berkali-kali: “Ahlan, ahlan, ahlan…” Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.

Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh mengikuti dan membayangkan “suasana Mesir”. Mulai rumah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan warung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, sehingga ber-“suasana Indonesia dan India”, ketimbang ber-“suasana Mesir”, dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.

4.2. Tradisi Kristen Koptik

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayatnya di-“tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam.

Bedanya, dalam Islam diawali dengan rumusan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria  kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik diperjelas: “Ajarilah aku shalat secara Islam!”.

Mengapa? Sebab kata “shalat” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan “shalat jam ketiga” (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam).  Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:

1. “Salat jam pertama” (Shalat as Saat al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Markus16:2).

2. “Salat jam ketiga” (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Markus 15:25; Kisah 2:15).

3. “Salat jam keenam” (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Markus 15:33, Kisah 3:30).

4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Saat at Tasiah), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Markus 15:33,38; Kisah 3:1);

5. “Salat Terbenamnya Matahari” (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Markus15:42).

6. “Salat waktu tidur” (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan

7. “Salat Tengah Malam” (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Wahyu 3:3)[9].

Salat Tujuh waktu (As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi (waktu-waktu) salat” (Shalat al-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah dokumen gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]

5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa

Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.

Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi terkadang “kelewat batas”. Misalnya, dalam Bab 33: “Nyanyian dari Surga” (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rahmat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu anggun dan luar biasa. “Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu”, kata Bunda Maria, “Apa maumu?”. “Aku ingin masuk surga. Bolehkah?”, tanya Maria sambil menangis.

“Boleh”, jawab Bunda Maria. “Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya”. “Apa kuncinya?”, tanya Maria. “Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?”, tegas Bunda Maria. “Aku tidak mengikuti ajarannya”, kata Maria. “Itu salahmu!”, kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan ke surga itu harus lewat Islam.

“Maria, dengarlah baik-baik!”, kata Bunda Kristus kepadanya. “Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, “Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka.” Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan melaksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah “ending” novel dakwah ini.

6. Catatan Reflektif

Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa surga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan setelah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad.

Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yohanes 14:6), meminjam “lisan Nabi Muhammad” untuk mengajar keyakinan itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak mendemo ketika “Ayat-ayat Cinta” meminjam “mulut suci Bunda Maria” untuk dakwah agama Islam.

Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah, “berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya” karena publikasi novel dan film itu?”

Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki “lbunda Dunia” ini. Misalnya, tenda-tenda Maidah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasianal (Wihdat al- Wathani).

Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri” [11].

Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film “ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.

*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.

Lampiran dan Catatan Kaki :

7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta Hal. 400 – HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.

“Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang diperuntukkan bagi semua hambaNya: Tapi kau harus tahu kuncinya?’ Apa itu kuncinya?

‘Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?’ Aku tidak mengikuti ajarannya.’ Itulah salahmu.’

Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau  sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.

Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lamanya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.

———————————
[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).
[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat populer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam
[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him. 126.
[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab’u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah,2001).
[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO’ A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba’ah,2001).
[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
[7] Kata “musyakirin awi ala …” (Terima kasih banyak atas…) adalah dialek khas Mesir, kata “awi” asalnya dari: “qawwi” (besar), dalam bahasa Arab klasik: “Syukran ‘ala… ” (terima kasih atas…), atau “Alfu syukran ‘ala …” (beribu terima kasih atas…)
[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: “These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer…” (hlm. 128).
Mengenai Gereja Orthodoks Syria, “…keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the ‘protection prayer’ (Suttara) before retiring” (hlm. 124). Sedangkan Gereja Maronit di Lebanon: “Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline” (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta’alim arï Rusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.
[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, “Ramadhan di Cairo”, di Surabaya Post, 20 Agustus 2004.

“Bhinneka Tunggal Ika”: Sejarah, Filosofi, dan Relevansinya sebagai Salah Satu Pilar Berbangsa & Bernegara*)

oleh: Bambang Noorsena

*)Makalah disajikan dalam “Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara”, yang diselenggarakan oleh BP MPR-RI, di  Hotel Ciputra, Jakarta, tanggal 17-19 Juni 2011.

BN bersama H. Taufik Kiemas, Ketua MPR RI.

Setelah dahulu pada zaman-zaman sebelumnya Brahma-Wishnu-Ishwara menjelma di dalam berbagai raja-raja di dunia,  maka kini pada zaman kaliyuga turunlah Sri Jinapati (Buddha) untuk meredakan amarah Bathara Kala. Sebagai-mana Sidharta Gautama, sebagai titisan Sri Jinapati, Sutasoma putra Mahaketu raja Hastina, keturunan Pandawa, meninggalkan kehidupan istana dan memilih  hidup sebagai seorang pertapa. Pada  suatu hari,  para  pertapa   mendapat  gangguan  dari Porusada,  raja  raksasa  yang  suka   menyantap daging manusia. Mereka memohon kepada Sutasoma untuk membunuh raksasa itu, tetapi permintaan itu ditolaknya. Setelah dalam olah spiritualnya Sutasoma mencapai kemanunggalan dengan Sang Buddha Wairocana, akhirnya  ia kembali ke istana dan dinobatkan menjadi raja Hastina. Sementara itu Raksasa Porusada, yang ingin disembuhkan dari sakit parah pada kakinya, bernazar akan mempersembahkan seratus raja sebagai santapan Bathara Kala. Tetapi Sutasoma menyediakan diri disantap oleh Kala, asalkan seratus raja itu dibebaskan. Bahkan ketika Bathara Siwa sangat murka, dan karena kesaktiannya telah merusak dan membunuh para lawannya, Sotasoma titisan Sang Buddha menghadapinya dengan cinta kasih. Panah-panah api Siwa dihadapinya dengan kekuatan tapanya, berubah menjadi air amerta. Semakin marahlah Siwa, sehingga ia menjelma menjadi api Kala yang siap melebur jagad raya. Turunlah para bathara dari kahyangan untuk menyadarkan Siwa. Semua maharshi melantunkan mantera-mantera Wedha, dan berdoa agar dunia tidak dihancurkannya. “Jangan lakukan itu, wahai Tuanku”, mereka memohon. “Engkau guru kami. Berbelaskasihanlah kepada ciptaan ini sebelum kiamat tiba (yuganta)”.Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiswa, bhineki rakwa ring apan kena parwanosên, Mangkā Jinatwa lawan Śiwatatwa tunggal,  Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharmma mangrwa (Konon dikatakan wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Siwa dan Buddha memang berbeda, namun bagaimana kita mengenalinya dalam sekilas pandang? Hakikat ajaran Buddha dan Siwa sebenarnya tunggal. Berbeda-beda tetapi satu jua. Tidak ada kebe-naran yang mendua). Bathara Siwa yang menitis pada Porusada akhirnya meninggalkan tubuh raksasa itu, karena disadarinya bahwa Sutasoma adalah Sang Buddha sendiri. Porusaddha santa. Sang Porusada tenang kembali. Tiada nafsu membunuh, tiada nafsu menghancurkan sesama ciptaan.[1]

BN bersama Prof. DR. Syafi'i Ma'arif mantan Ketua PP-Muhammadiyah

Kisah di atas dikutip dari Kakawin Sotasoma, karya Mpu Tantular, yang ditulisnya pada masa keemasaan kemaharajaan Majapahit (1340). Hal penting yang perlu diga-risbawahi dari penggalan karya Mpu Tantular ini adalah asal-usul istilah “Bhinneka Tunggal Ika” yang kini menjadi salah satu dari Catur Pilar Kebangsaan Indonesia, khususnya ada-lah makna filosofinya. Perlu dicatat pula, bahwa dari sumber kesusastraan yang sama kita juga mengenal istilah “mahardhika” (yang menjadi asal kata salam nasional kita “Merdeka”), dan nama Dasar Negara kita Pancasila. Karena itu, “Bhinneka Tunggal Ika”,  − ungkapan yang menurut Dr. Soewito Santosa dalam bukunya Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana, − “is a magic one of great signifince and it ambraces the sincere hope the whole nation in its struggle  to become great, unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community”.[2]

Seperti sinopsis kisahnya yang telah dikutip selayang pandang, kisah ini mula-mula hendak menekankan pentingnya kerukunan antara kedua aliran agama pada zaman itu, yaitu agama Hindu (Siwa) dan agama Buddha. Sosok Bathara Siwa mewakili Hindu dan Raja Sutasoma mewakili ajaran Buddha, yang dimata sang pujangga sekalipun secara lahiriah berbeda-beda tetapi keduanya merupakan ekspresi kebenaran tunggal yang sama. Anda boleh tidak setuju kepada kesimpulan teologis mengenai adanya the transcendental unity of religions yang diwakili oleh ungkapan: Tan Hana Dharma Mangrwa (Tidak ada kebenaran agama yang mendua). Tetapi inti masalahnya yang hendak dipecahkan sang pujangga pasti semua tidak keberatan. Yaitu bagaimana menjinakkan kutub-kutub ekstrim yang ada pada setiap agama, agar tersedia “ruang bersama” untuk saling berbagi, saling melengkapi dalam membangun NKRI sebagai rumah bersama. Karena itu, kini ungkapan bhinneka tunggal ika tercantum sebagai seloka dalam lambang negara kita dalam makna kebangsaan yang lebih kompleks.  Meskipun dalam narasi di atas konteksnya hanya mengacu kepada kemajemukan dalam agama, tetapi dalam implementasinya dalam kehidupan kenegaraan falsafah Bhinneka Tunggal Ika menjiwai kehi-dupan sosial politik kenegaraan secara lebih luas pada zaman itu, tercermin dari tatanan sosial politik, budaya, dan hukum, sebagaimana yang kita implementasikan dalam problem kebangsaan kita yang sekarang jauh lebih kompleks.

Dalam konteks pergulatan bangsa di tengah-tengah problem kemajemukan, Pancasila tampil sebagai ideologi yang paling cemerlang, khususnya apabila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain dalam pergulatan nasional mereka, meskipun problem kemajemukan kita jauh lebih kompleks. Salah satu faktor, kita memiliki pijakan historis dan filosofis  yang jauh lebih kuat. Kita bisa membandingkan, Ernest Renan mengucapkan pidatonya yang terkenal Qu’est ce qu’une Nation? –“Apakah suatu Bangsa itu?”, di Universitas Sorbone, Prancis tahun 1882. Renan menekankan bahwa agama tidak bisa menjadi landasan kokoh berdirinya suatu bangsa, mungkin setelah ia melihat perpecahan Belanda dan Belgia, yang salah satu faktornya karena kepentingan wilayah Belgia yang mayoritas Katolik tidak dapat merasa terakomodasi oleh pemerintah pusat Belanda yang mayoritas Protestan. Dalam hal tumbuhnya kesadaran mengelola kemajemukan masyarakat, di Barat − yang memang relatif sebagai suatu yang sangat baru − dapat dibilang sangat lambat. Kita memiliki pijakan historis yang lebih kokoh. Jauh sebelum Barat menya-darinya, seloka Bhinneka Tunggal Ika, sudah diperkenalkan lebih kurang 600 tahun sebelumnya (1340), bahkan jauh sebelum munculnya kesadaran Pluribus Unum-nya Amerika, karena memang ketika Mpu Tantular menulis karyanya, saat itu Amerika belum lahir.

Bahkan dari kisah yang dikutip sekilas di awal tulisan ini, Mpu Tantular tidak hanya telah meletakkan landasan politis bagaimana mengatasi pluralisme agama, tetapi malahan sudah dikembangkan landasan teologi kerukunan yang jauh lebih mendasar dan memadai. Karena itu bukan tanpa kebetulan kalau para founding fathers di awal berdirinya NKRI menjadikan Maja-pahit (dan Sriwijaya) menjadi “model” bagi negara kebangsaan (Nationale Staat) dalam mengatasi masalah warisan kemajemukan, sebagaimana yang ditekankan Bung Karno dalam pidatonya tang-gal 1 Juni 1945.[3] Perlu dicatat pula bahwa sekalipun Majapahit pada waktu itu mayoritas Hindu-Buddha, ini berbeda dengan Kesultanan Demak, Pajang, Banten, Ternate, Tidore, dan negara-negara merdeka lain di Nusantara, namun bagitu Majapahit bukan negara theokrasi Hindu, melainkan sebagai negara nasional dengan spirit Hindu dan Buddha sebagai dua agama yang dominan waktu itu dan dikelola oleh prinsip “Bhinneka Tunggal Ika”.

Bahkan dibuktikan bukan hanya pada sistem politik kenegaraannya, falsafah “Bhinneka Tunggal Ika” ini juga tercermin pada politik Hukum Majapahit yang tidak didasarkan mentah-mentah pada Hukum Manu (Manawa Dharmasastra) India, melainkan telah dikembangkan suatu sistem hukum nasional yang sesuai dengan warisan sosial dan budaya bangsa pada zamannya, seperti tercermin dalam dua kitab Undang-undang Majapahit, yaitu Sang Hyang Kutaramanawa atau Sang Hyang Āgama,[4]yang asal-usulnya dapat dilacak dari zaman Raja Hayamwuruk (1350-1389) dan Sang Hyang Ādigama[5], yang berasal dari zaman Raja Wikramawardhana (1389-1428). Kedua kitab undang-undang Majapahit ini yang sampai sekarang masih menjadi salah satu rujukan dalam Hukum Adat di Bali, termasuk dari kitab-kitab Catur gama. Bahkan dibuktikan juga, bahwa ternyata beberapa kompalasi hukum Nusantara yang berasal dari zaman pra-kolonial, seperti Pepakem Cirebon, Simbur Cahaya, dan lain-lain, juga berasal dari lontar-lontar hukum dari zaman Majapahit. Bahkan pranata hukum yang berlaku pada zaman kerajaaan-kerajaan Nusantara pra-kolonial juga berasal dari sistem Majapahit, misalnya sistem Jeksa Pepitu dalam pepakem Cirebon, ternyata berasal dari Sapta Upapati. Seperti disebutkan dalam Undang-undang digama, pada zaman Majapahit penegakan hukum yang transparan digambarkan dengan “Dewan Hakim Tujuh” yang biasanya menyidangkan perkara di bawah pohon beringin (lambang pengayoman) dan disaksikan oleh rakyat banyak.

●  “Bhinneka Tunggal Ika”: Implementasinya dalam Relasi Negara dan Agama

Dalam kaitannya dengan relasi agama dan negara, Pancasila diajukan Bung Karno sebagai Philosopie Gronslag (Dasar Falsafah) Negara Indonesia dalam pidatonya yang berjudul Lahirnya Pancasila, di depan sidang Dokoritsu Zonbie Tjosakai  (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 1 Juni 1945, dalam rangka menjawab dan menemukan solusi dari para peserta sidang yang terbelah menjadi dua pilihan, yaitu pilihan Negara Islam, dan pilihan Negara Sekular. Pancasila muncul sebagai “jalan tengah“ diantara dua kutub ekstrim antara paham negara agama (Theocracy) dan paham negara sekuler (Secularism). Pada satu pihak dengan penegasan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa“, maka tidak mungkin kita mendepak nilai-nilai agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari kehidupan berbangsa dan ber-negara, karena hal itu bertentangan dengan degub jantung kehidupan rakyat Indonesia yang sangat religius. Di pihak lain, dengan mengangkat dasar “Ketuhanan yang Maha Esa“ (bukan agama tertentu) juga berarti  pengakuan terhadap semua agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Jadi, bukan bukan Ketuhanan menurut salah satu agama saja, melainkan Ketuhanan menurut agama masing-masing, sebagaimana ditegaskan oleh Bung Karno:

Prinsip Ketuhanan. Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhannya menurut petunjuk Isa Al-Masih, yang Islam menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab suci yang ada padanya. Tetapi marilah kita semua ber-Tuhan. Hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada „egoisme agama“. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang bertuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain. Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain.[6]

     Dalam kerangka berpikir seperti itulah Bung Karno menyebut bahwa Indonesia yang hendak didirikan adalah sebuah Nationale Staat (Negara Nasional). Dan dalam mengelola kema-jemukan masyarakat Indonesia, maka model yang hendak dipilih oleh Bung Karno adalah Sriwijaya dan Majapahit, bukan negara-negara agama seperti Demak, Pajang, Mataram, Ternate, Tidore dan lain-lain. Selanjutnya, semboyan yang dicantumkan dalam lambang negara adalah “Bhinneka Tunggal Ika“ (Berbeda-beda tetapi Satu), suatu ungkapan yang berasal dari Mpu Tantular, di puncak kejayaan Majapahit, dengan tepat mengungkapkan problem kemajemukan Indonesia yang harus dijadikan asas dalam pembangunan hukum. Rujukan kepada negara nasional Majapahit bagi para pendiri bangsa Indonesia, ternyata secara historis mempunyai dasar filosofis yang sangat mendalam.

    Fakta sejarah juga membuktikan bahwa jauh sebelum Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang menekankan pengakuan negara atas Tuhan Yang Maha Esa sebagai Causa Prima, tanpa terikat oleh definisi menurut salah satu agama, kesadaran ini sudah muncul pada negara nasional Majapahit. Berkaitan dengan seloka “Bhinneka Tunggal Ika“, S. Supomo dalam penelitiannya yang berjudul Arjuna-wijaya: A Kakawin of Mpu Tantular, mengatakan bahwa pada zaman Majapahit konsep “Ketu-hanan Yang Maha Esa” disebut dengan Sang Hyang Parawataraja, yang mengatasi konsep-konsep ketuhanan menurut agama-agama yang pada waktu itu. Dalam konsep “The National Godhead” dinyatakan bahwa Negara berdasarkan atas kesadaran adanya Tuhan yang Maha Esa, tetapi tidak identik dengan salah satu agama:

He was both the Supreme God and the great ruler of realm, he was neither Siwa nor Buddha, but in Prapanca words: Siwa-Buddha (Nag. 1,1), the protector of the absolute (natha ning anatha), the ruler of the world ruler  (pati ning jagad pati), and the God of tutelary deities (Hyang ning hyang inisthi). As such he symbolized the unity of the kingdom and the oneness of the dharma”.[7]

(Terjemahan bebas: “Dia adalah Tuhan Yang Maha Tinggi, sekaligus Penguasa alam semesta, bukan Tuhan menurut konsep agama Siwa maupun konsep agama Buddha, tetapi seperti istilah Mpu Prapanca Siwa-Buddha – yang menampung baik Hindu maupun Buddha – Dialah Pelindung Yang mutlak (natha ing anatha), Penguasa segala penguasa dunia (pati ning jagad pati), dan Tuhan di atas segala konsep ketuhanan dalam paham agama-agama (Hyang ning hyang inisthi). Istilah ini merupakan simbol dari kesatuan kerajaan dan sekaligus kesatuan transendental yang diajarkan agama).

Bertitik tolak dari konsep Nationale Staat  (Negara Nasional) yang tidak didasarkan atas agama tertentu, Mr. Muhammad  Yamin membuktikan bahwa pada waktu itu sudah dikenal jabatan tinggi yang disebut dharmadyaksa yang mengurusi agama Hindu (Dharmadyaksa ring Kasyaiwan) dan agama Buddha (Dharmadyaksa ring Kasogatan). Sedangkan sebuah kelompok tersendiri yang disebut Karesyan – barangkali sejajar dengan penghayat Kepercayaan pada zaman sekarang – berada di bawah seorang pejabat yang bernama Mentri  Herhaji.[8]  Ketiga kelompok agama dan keyakinan tersebut dalam Kakawin Negarakrtagama, karya Mpu Prapanca (1361) disebut Tripaksa, dan langsung di bawah kekuasaan Raja: “Aramba Nareçware pageha sang Tripakse Jawa” (Artinya: “yang meneguhkan hak dan kewajiban tripaksa di wilayah pulau Jawa dalam perlindungan kekuasaan Raja” − Kakawin Negarakrtagama LXXX,1).[9] Hak-hak kebe-basan beragama, beribadah dan mengekspresikan keyakinan dari ketiga kelompok agama dan kepercayaan tersebut dijamin oleh negara, tanpa ada diskriminasi satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Dalam konteks pemikiran seperti yang dikutip di atas, ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi satu) dikemukakan pertama kali oleh Mpu Tantular yang juga berasal dari zaman yang sama yang dijadikan sesanti negara dalam mengelola warisan kultural kemajemukan agama-agama pada zamannya, yang kemudian diangkat kembali oleh para pendiri bangsa Indo-nesia untuk menjawab problem kemajemukan bangsa Indonesia modern yang tentunya jauh lebih kompleks. Sebagaimana sudah disinggung sepintas di depan, bahwa dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) beberapa bulan menjelang kemerdekaan Indonesia, masalah penting yang hendak dipecahkan adalah dasar negara yang akan menjadi landasan Indonesia Merdeka. Pada waktu itu ada dua kelompok, yaitu kelompok  yang menghendaki Negara Islam, dan yang lain menghendaki negara yang netral agama. Selain pemi-kiran Bung Karno yang disampaikan dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Bung Hatta meng-hendaki Negara Sekuler yang memisahkan agama dan negara (Scheiding van Kerk en Staat),[10] sedangkan Soepomo seperti Bung Karno menghendaki pemisahan agama dan negara, tetapi tidak berarti bahwa negara bersifat “a-religious”. Sebaliknya, agama-agama harus menjadi landasan etik, moral dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara menuju kejayaannya, sebagaimana dikatakan oleh Soepomo:

Negara nasional yang bersatu itu tidak berarti bahwa negara itu akan “a-religious”. Itu bukan. Negara nasional yang bersatu itu akan memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur, akan memegang cita-cita moral rakyat yang luhur. Maka negara yang demikian itu dan hendaknya negara Indonesia juga memakai dasar moral yang luhur, dasar moral yang juga dianjurkan oleh agama Islam.[11]

Karena itu Soepomo membedakan antara “Negara Islam” dengan “Negara berdasar atas cita-cita luhur dari agama Islam”. Meskipun Soepomo menegaskan bahwa pilihan negara Islam tidak tepat, karena “akan timbul soal-soal minderheden, soal golongan agama yang kecil-kecil, golongan agama Kristen dan lain-lain”,[12] namun dua hari setelah kemerdekaan Indonesia, tepat-nya tanggal 19 Agustus 1945, ketika membentuk kabinet, dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zonbai Inkai) Soepomo menghendaki agar melalui Kemen-trian Kehakiman negara tidak hanya mengatur soal peradilan, soal penjara, tetapi juga turut mengatur masalah nikah, talak, rujuk, infaq dan zakat yang terkait dengan masalah-masalah keagamaan, khususnya agama Islam. Gagasan inilah yang di kemudian hari ditampung dengan pembentukan Departemen Agama. Dan karena Indonesia bukan negara Islam, maka departemen mengatur dalam batas-batas tertentu urusan yang berkaitan dengan agama-agama yang ada di Indonesia.

●  “Bhinneka Tunggal Ika”: Implementasinya dalam Relasi Antar Suku Bangsa

Dalam risalah sidang kedua Dokuritu Zyunbbi Tyosakai (Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan), yang berlangsung 10-17 Juni 1945, muncul juga tema menarik yaitu soal wilayah Indonesia.  Dalam kaitannya dengan tema “Bhinneka Tunggal Ika” dan masalah etnisitas atau kemajemukan suku-suku bangsa, Bung Hatta mempertanyakan apakah Papua termasuk wilayah Indonesia. Karena secara etnologis, Papua termasuk rumpun Melanesia, berbeda dengan rumpun penduduk Indonesia lainnya yang termasuk rumpun Polenisia. Menurut Hatta, yang lebih rasional dan sesuai dengan hukum internasional, yang menjadi wilayah Indonesia adalah bekas jajahan Belanda. Diingatkan Hatta, jangan sampai dengan konsep “tumpah darah” (Jerman: kultur und boden) menjadi nafsu imperlialis seperti Jerman. Tetapi Hatta juga manyadari, bahwa seperti pen-duduk Indonesia di wilayah Barat dan Tengah adalah asimilasi dari orang-orang Melanesia dengan bangsa-bangsa Arab, Cina, India, begitu juga bisa jadi hasil percampuran antara penduduk Melanisia dengan Polenisia lalu menjadi Papua, menjadi dasar dimasukkannya Papua menjadi wilayah Indonesia.[13]

Sebelumnya Yamin menekankan, bahwa wilayah kita jangan hanya menjadi enclaves daripada “seluruh tanah Indonesia atas beberapa kekuasaan imperialisme 350-400 tahun yang belakangan ini”. Menurut Yamin, perkataan “Indonesia” sendiri dibuat dengan pemahaman yang mengatakan Indonesia melingkupi daerah Malaya dan Polinesia. Jadi, dengan sendirinya pada waktu perkataan Indonesia lahir, dimaksudkan tanah Papua masuk ke dalam daerah Indonesia. Menurut paham Geopolitik, pulau Papua adalah lompatan yang paling akhir dari benua Indonesia menuju lautan Pasifik, dan lompatan yang pertama dari lautan pasifik menuju tanah air kita. Apalagi menurut faham Indonesia, sebagian besar pulau Papua adalah masuk hak adat lingkungan adat kerajaan Tidore, sehingga dengan sendirinya betul-betul daerah itu masuk bagian daerah Indonesia. Akhirnya Yamin juga menandaskan bahwa wilayah Indonesia adalah “Kepulauan De-lapan”: Sumatra, Melayu, Borneo, Jawa, Sulawesi, Sunda Kecil,  Maluku, dan Papua (masing-masing dengan kepulauan-kepulauan kecil di sekeliling  Kepulauan Delapan tersebut. Yamin menyebut bahwa sebenarnya itu bukan keinginannya, tetapi sejak beribu-ribu tahun tumpah darah Indonesia itu terbentuk, yang disebutnya “Testamen Gajahmada”.[14]

Menariknya, berbeda dengan Hatta yang masih agak ragu-ragu memasukkan Papua, Bung Karno sepakat 100% dengan Yamin, dan memperkuat argumentasi Yamin bahwa wilayah kita bukan warisan Belanda, sebaliknya  “….bersandar kepada kekuatan sejarah kita dulu, bersandar pada batas sejarah kita yang dulu. Bukalah, tuan-tuan. Negarakertagama yang ditulis Prapanca, maka tuan-tuan akan membaca di dalamnya beberapa nama tempat dan daerah yang menun-jukkan, bahwa kerajaan Majapahit pun daerahnya melebar sampai kepada Papua”.[15] Bung Karno percaya, kalau kita melihat peta dunia maka kita akan melihat bahwa Tuhan Allah SWT telah menentukan beberapa daerah sebagai suatu kesatuan. Allah telah menentukan kepulauan Inggris sebagai satu kesatuan, atau menentukan kepulauan Hellenia (Yunani) sebagai satu kesatuan, demikian juga Allah telah menentukan wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, pentingnya faktor wilayah ini ditekankan Bung Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, untuk melengkapi definisi Ernest Renan dan Otto Bauer. Renan mensyaratkan bangsa hanyalah “kehendak akan bersatu” (le desir d’etre ensemble), sedangkan Bauer mendefinisikan: “Bangsa adalah satu perasaan perangai yang timbul karena persatuan nasib” (Eine nations ist aus Schiksals gemenischafft erwachsene charakter gemenischaft).[16] “Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya”, demikian tegas Bung Karno.

Apa yang diwacanakan oleh para “Founding Fathers” di atas bukan sekedar apologetika atau bentuk pembelaan diri mengenai hak bangsa Indonesia untuk menempati tumpah darah Indonesia, tetapi sadar atau tidak juga merupakan bagian dari upaya pencarian mereka atas rujukan historis bagaimana kita harus memaknai warisan kemajemukan kita, khususnya dalam hal suku-suku bangsa. Tetapi para pendiri bangsa itu tidak berlebihan. Indonesia ternyata tidak hanya mempunyai bukti-bukti prasasti dan bergudang manuskrip kuno yang membuktikan bahwa sebelum mereka hendak mendirikan NKRI, rakyat yang mendiami ratusan pulau besar dan kecil dari Sabang sampai Merauke itu, memang pernah disatukan dalam satu wadah Negara. Itulah yang dimaksudkan Bung Karno sebagai “sebuah Negara Nasional” (Nationale Staat), sebelum NKRI sekarang, yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Bukti-bukti itu tidak hanya tercatat dalam Kaka-win Negarakrtagama, karya Mpu Prapanca (1365), dan sejumlah manuskrip Nusantara kuna lainnya, tetapi juga karya-karya pujangga manca negara yang sezaman, bahkan ketika di Indonesia sendiri masih disebut “pra-sejarah”. Maksudnya, sudah ada catatan-catatan manca negara yang merujuk eksistensi bangsa Indonesia, ketika bangsa Indonesia sendiri tidak atau belum mencatat sejarahnya.

Salah satunya yang dapat disebut di sini adalah Śrīmad Vālmīki-Rāmāyana, karya pujangga Vālmīki (kira-kira tahun 150 M), sudah menyebut eksistensi Kerajaan Nusantara sebagai berikut:

Yatnavanto Javadvipam  saptarajyopasobhitam
Suvarnarupyakadvipwan, Suvarnakaramanditam
Javadvipamatikramya  Sisiro namaparvatah
Divam sprasati srgena devadanavasevitah
Etesam giridurgesa prapatesa vanesa cha.

Artinya:

Jelajahilah Tanah Jawa, dan tujuh wilayah kerajaan sebagai hiasan
Nusa Emas dan Perak, dan  sebuah pulau bertambang emas
Di luar pulau Jawa,  ada gunung tinggi menjulang namanya Sisira
Puncaknya tinggi mencium langit, ditunggu Dewa dan dihuni raksasa
Gunung itu puncaknya bersalju……” [17]

Menurut Phalgunadi, kata saptarājya merujuk kepada tujuh pulau Nusantara, yaitu Javadvipa (Jawa), Suvarnadvipa (Sumatra), Barhinadvipa (Borneo), Balidvipa (Bali), Angadvipa (Nusa Tenggara), Shankadvipa (Celebes), dan Papua yang dalam Ramayana hanya disebut letaknya “di luar pulau Jawa” (Javadvipapamatikramya).[18] Dengan demikian, penduduk Indonesia bukan hanya meliputi suku-suku yang mendiami wilayah Barat Nusantara yang dikenal  sebagai rumpun Polenisia, tetapi juga  suku-suku Papua yang dikenal dengan rumpun Melanesia. Nah, keanekaragaman penduduk yang menghuni kepulauan Nusantara selama berabad-abad dengan segala kompleksitas budaya, bahasa dan adat istiadatnya, meskipun dalam konteks narasi yang dikutip di awal tulisan ini tidak dibahasnya langsung, namun secara substansial juga menjadi perhatian para pujangga Nusantara.

●  Falsafah “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai Modal Dasar  Mengokohkan Keindonesiaan

Selanjutnya, seperti sudah diuraikan di bagian depan, bahwa Indonesia memiliki preseden sejarah yang jauh lebih kuat ketimbang bangsa-bangsa lain dalam mengelola kemajemukan masyarakat kita. Barat masih relatif baru mengawalinya. Karena itu, jauh sebelum orang-orang Barat memikirkan apa yang disebut dengan multikulturalisme, ratusan tahun yang lalu bangsa kita sudah mempunyai falsafah “Bhinneka Tunggal Ika”. Fakta sejarah juga membuktikan, bahwa semakin banyak suatu bangsa yang menerima warisan kemajemukannya, maka semakin toleran bangsa tersebut terhadap kehadiran “yang lain”. Ambillah contoh negara-negara Islam di wilayah Asia dan Timur Tengah. Bukankah Mesir, Palestina, dan Lebanon yang sejak awal menerima warisan kemajemukan dan lebih heterogen masyarakatnya, jauh lebih toleran dan ramah sikap keagamaannya apabila dibandingkan dengan Saudi Arabia, Yaman, dan Pakistan yang masyarakatnya sangat homogen satu agama?

Contohnya, Nasionalisme Mesir yang didominasi 2 agama besar, Islam dan Kristen Ortodoks Koptik, pada waktu revolusi nasional tahun 1919, afiliasi kebangsaan telah berhasil didefinisikan oleh partai Wafd. Kesadaran historis bahwa agama tidak bisa dijadikan dasar pemer-satu Mesir, disuarakan oleh para pemimpin revolusi seperti Sa’ad Zaghlul, Musthafa al-Nuhas, Wisha Washif, dan rekan-rekan mereka, berbareng dengan dikenalkannya kredo nasionalis: al-Dîn lil Lah wa al-Wathan li al-Jami’ (Agama untuk Allah, dan Tanah air untuk semua). Pada dekade selanjutnya, khususnya yang menguat pada masa sekarang ini, kaum fundamentalis berusaha menolak kredo kebangsaan itu, dan menegaskan bahwa afiliasi keagamaan harus didahulukan di atas afiliasi kebangsaan.

Contoh lain, Libanon yang memiliki 17 aliran keagamaan, satu-satunya negara Arab dengan dominasi Kristen Maronit, mereka dipersatukan oleh Nasionalisme Arab yang menuntut kemerdekaan dari Perancis pasca-perang Dunia II, dengan kredo nasionalisme mereka: Anâ al-‘Arabî qabla al-Islâm (Saya adalah orang Arab sebelum Islam). Namun sejak fenomena kebang-kitan agama-agama menjelang dan pada abad XXI, afiliasi keagamaan kembali menuntut supremasinya atas afiliasi kebangsaaan. Negeri “Cedar Suci” ini akhirnya menjadi lahan subur tragedi kemanusiaan dan perang saudara selama 17 tahun (1978-1992), yang nyaris memecah belah Lebanon menjadi beberapa negara bagian. Untunglah, kaum nasionalis cepat bangkit menyadarkan mereka, bahwa pembagian Lebanon menjadi kavling-kavling negeri kecil yang akan melemahkan mereka. Lebanon kembali utuh, setelah kesadaran kebangsaan yang mengatasi sektarianisme agama yang sempit dan pengap itu, memulihkan dan menyatukan mereka.  Sebelum menajamnya perbedaan agama-agama pada era sekarang, sebelum itu India telah terpecah dengan Pakistan karena alasan alifiasi keagamaan.

Masih banyak contoh lain yang bisa dikemukakan, bahwa konflik-konflik yang dilatar-belakangi oleh afiliasi kegamaan jauh lebih kompleks dibandingkan ranah-ranah lain, seperti masalah rasial, misalnya. Konflik-konflik non-agama bisa saja mencair dengan meningkatnya kemakmuran masyarakat, kecanggihan teknologi dan kesejahteraan umum, tetapi konflik agama belum tentu dapat dilerai dengan semua itu. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa tidak ada kejahatan yang melebihi kejahatan yang digerakkan oleh sentimen keagamaan. Memang, situasi politik yang dimotivasi agama ini, tidak bisa dilepaskan dari gerakan fundamentalisme global sebagai reaksi dari politik luar negeri Amerika Serikat yang tidak adil. Tesis Samuel P. Hunstington, The Clash of Civilizations yang terbit tahun 1993,[19] turut menyuburkan pandangan “determinisme historis” yang memandang bahwa tindakan manusia sangat ditentukan oleh sentimen-sentimen bawaan dalam dirinya. Dengan dalil ini, Hunstington telah menetapkan Islam (tanpa melihat varian-varian di dalamnya yang sangat beragam) sebagai “musuh baru” dunia Barat pasca-perang dingin. Buku ini mula-mula berasal dari artikel yang dipublikasikan dalam jurnal foreign affairs, sebuah jurnal bergengsi seputar tema politik luar negeri Amerika Serikat. Kalau cermat kita baca, artikel ini turut merekomendasikan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Karena itu, artikel Hunstington tersebut tidak bisa dibaca sebagai studi akademis murni dari seorang guru besar ilmu politik, melainkan juga mengandung misi politik, propaganda dan agitasi.[20]

Lebih seram dibandingkan dengan tesis Karl Marx, yang memandang bahwa faktor penggerak sejarah adalah benturan dan konflik kelas, Hunstington menarik konflik dalam skala yang lebih luas lagi, yaitu benturan dan konflik peradaban. Tesis ini telah berhasil memobilisasi opini publik Amerika dan Eropa untuk mencari “kambing hitam” baru, yaitu Islam sebagai “imperium kejahatan” yang harus dihadapi dengan perang salib baru, setelah “phobia komunisme” tidak lagi efektif untuk menyatukan sentimen masyarakat Barat. Tesis ini justru telah berhasil memompa motivasi baru bagi kaum fundemantalis Islam, yang sebelumnya sudah ada, tetapi nyaris kurang digubris oleh mayoritas umat Islam sendiri. Dan entah sadar atau tidak, ketika George W. Bush menabuh “genderang perang” sebagai reaksi atas peristiwa WTC, tanggal 11 September 2001, ia menyebut sebagai “perang salib baru”. Pernyataan ini, meskipun buru-buru dikoreksinya, justru membuktikan bahwa itulah “suara bawah sadar” Presiden George W. Bush sendiri.[21]

Dunia Arab sendiri cukup diresahkan dengan “tesis futurologis” ini, terbukti dari koreksi Prof. Dr. Shalah Qansu, seorang guru besar Universitas Cairo, dalam “Kata Pengantar” terjemahan bahasa Arab buku Hunstington ini, Saddâm al-Hadhârât wa ‘I’âdat Shun’in Nidhâm al-‘âlamî.[22] Patut ditekankan, bahwa dunia Arab tidak dapat dianggap mewakili Islam, antara lain juga terbukti dari sanggahan keras atas karya Hunstington ini berasal dari seorang intelektual Gereja Ortodoks  Koptik, Dr. Milad Hana dalam bukunya, Qabûl al-âkhar: Min ajli Tawâshul Hiwâr al-Ha-dhârat,[23] yang menilai tesis Hunstington tidak lebih sebagai model baru politik Devide et Impera (Memecah dan Menguasai). Pada hemat Hana, kesalahan teori Marx maupun tesis Hunstington terletak pada titik tolaknya yang “memusuhi yang lain” (rafdh al-akhar), padahal hukum alam membuktikan bahwa selalu ada 2 hal yang berbeda tetapi tidak harus selalu bermusuhan, bahkan bisa saling melengkapi. Milad Hana mengemukakan antitesis kultural yang disebutnya qabûl al-âkhar menerima pihak lain), dan mencontohkan praktek budaya ini di Mesir. Dikemukakannya, bahwa Islam Mesir sangat jauh berbeda dengan Islam di Saudi, Pakistan atau Afghanistan. Mesir bisa mengembangkan budaya “menerima pihak lain”, karena karakter unik kebudayaan Mesir yang berasal dari akumulasi serpihan-serpihan aneka peradaban. Berakar pada peradaban kuno Firaun dari tahun 3500 SM, lalu peradaban romawi-Byzantium, Kristen Koptik dan Arab Islam. Warisan aneka peradaban itu, telah melahirkan Islam Mesir yang khas: berwajah Suni, berdarah Syi’ah, berhati Kristen Koptik, dan bertulang peradaban Fir’aun. Itulah al-A’midah as-Sab’ah li asy-Syakhsyiah al-Mishriyyah (tujuh pilar kepribadian Mesir).[24]

Ungkapan ini dikemukakan Hana, ketika Presiden Anwar Sadat, demi mengambil hati kaum fundamentalis, mengatakan bahwa ia adalah Presiden Muslim di sebuah negara Islam. Mesir bukanlah Mesir tanpa unsur Koptik di dalamnya, karena memang negeri ini berpijak pada Mesir Kristen dan Mesir Islam. Intelektual Kristen Mesir peraih International Simon Bolivar Prize tahun 1998 ini, mencontohkan pula kehidupan antarumat beriman di Mesir pada masa sekarang. Dise-butkan bahwa penampilan Syeikh al-Azhar yang teduh dan kedatangannya setiap perayaan Natal (khidmat miladiyah) turut memberikan citra keramahan Islam. Sebaliknya, tenda-tenda buka puasa bersama yang lebih populer disebut ma’idah al-rahman (Perjamuan Sang Pengasih), yang juga rutin diselenggarakan oleh pemimpin-pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, menjadi simbol persatuan nasional (wihdah al-wathani).[25]

●  “Bhinneka Tunggal Ika” dan Tantangan Era Kesejagadan

Pada akhirnya, dengan falsafah “Bhinneka Tunggal Ika”-nya nasionalisme Indonesia harus  menghadapi konteks baru, yaitu era kesejagadan (globalisasi) dan kebangkitan agama-agama. Sekali lagi, nasionalisme Indonesia harus diuji di “kawah candradimuka”-nya tantangan sejarah baru yang menghadang. Mengenai globalisasi, patut juga ditekankan bahwa tidak ada universalisme yang tidak berakar pada partikularitas tertentu. Dalam konteks partikularitas kita, nasionalisme Indonesia mendapatkan tempat, meskipun harus terus menerus dilihat dalam konteks masyakarat global yang menghisabkan kita dalam warga masyarakat dunia. Meminjam istilah Bung Karno dalam pidato Lahirnya Pancasila, “Nasionalisme Indonesia harus tumbuh subur di tamansari Internasionalisme”. Seperti Mesir kita harus berbangga, bahwa kita mempunyai rujukan sejarah sebagai bangsa yang besar. Kita juga bangga, bahwa di wilayah Nusantara ini, berbagai budaya dan agama dunia pernah bertemu, saling berinteraksi, saling berbagi dan menyumbangkan pernik-pernik yang memperindah mozaik keindonesiaan kita. Terbukti bangsa yang tidak mempunyai warisan sejarah seperti itu, harus susah payah membangun harga diri mereka untuk membuktikan siapakah mereka kepada dunia. Dan kita lebih dari Mesir, karena kesadaran untuk mengelola kemajemukan itu bukan baru pada zaman modern ketika bangsa-bangsa lain di muka bumi tengah pula mempergumulkannya. Bangsa Indonesai telah menemukannya kurang lebih 600 tahun sebelum bangsa-bangsa di dunia ini menyadari, bahwa warisan kemajemukan bukanlah harus memecah belah, tetapi justru akan menjadi kekuatan pemersatu bangsa.

Contoh-contoh menarik dapat dikemukakan di sini. Misalnya, munculnya chauvinisme bangsa Jerman yang digerakkan Adolf Hitler. Pertumbuhan “nasionalisme” Jerman ini, lebih jauh dapat dilacak dari peristiwa bubarnya Imperium Romanum Sacrum, ketika Napoleon Bonaparte menduduki kota Wina tahun 1789. Sebelum itu bangsa-bangsa Eropa diikat oleh kesatuan civilisasi, yaitu anggota Imperium Romawi, yang sudah berkuasa kurang lebih dari 2000 tahun. Revolusi Perancis benar-benar menyadarkan bangsa-bangsa Eropa itu bahwa mereka sebenarnya tidak mempunyai identitas budaya, sosial maupun kebangsaan, kecuali ketundukkan kepada penguasa-penguasa aristokrat mereka. Kesadaran ini merangsang berkembangnya paham kebangsaan. Tetapi berbeda dengan Itali, karena banyak wilayahnya yang secara langsung masih tetap dikuasai Raja Austria, yang sejak tahun 1815 diakui sebagai Kaisar “Monarchi Austria-Hongaria’ oleh wilayah-wilayah lain yang dikuasainya. Jadi, dengan mudah bangsa Itali mencari sumber pada identitas yang dapat mempersatukan mereka dari tradisi budaya yang pernah berkembang di kerajaan Romawi dahulu. Sebaliknya, bagi para nasionalis Jerman usaha untuk mencari titik persamaan itu sangat sulit. Mereka akhirnya mencari bukan dari sejarah, tetapi dari mitologi. Syair Nibelungen dan syair-syair kuno lain yang bersumber dari mitologi suku-suku Jerman kuna menjadi peluang dan sumber untuk mencari dasar supaya nasionalisme Jerman berkembang. Faktor inilah yang membuat nasionalisme Jerman menjadi tertutup.[26]

Selain itu, dibuktikan pula bahwa secara psikologis rasa percaya diri orang-orang Jerman sangat lemah, maka keunggulan  mereka harus dibuktikan ”secara ilmiah”, yaitu dengan menetap-kan superioritas ras Arya berdasarkan ilmu biologi. Itulah yang melatarbelakangi kelahiran kredo chauvinisme mereka: Germany Ubber Alles (Tidak ada yang mengungguli Jerman). Dalam kon-disi psikologis seperti ini, orang-orang Yahudi di Eropa pada waktu itu yang meyakini diri mereka sebagai bangsa pilihan Allah. Sudah barang tentu, keyakinan diri bangsa Yahudi ini dianggap menantang klaim superioritas Jerman. Apakah karena “rasa aman” sebagai bangsa terganggu, itu sebabnya sehingga Hitler yang sakit jiwa itu, menginstruksikan Nazi Jerman untuk melakukan pembantaian besar-besaran kaum Yahudi di kamp-kamp rahasia? Pertanyaan ini menarik untuk kita renungkan bersama.

Bukankah fenomena di atas tidak jauh berbeda dengan kebangkitan kaum teroris yang terkenal sangat militan itu? Secara umum, sejak runtuhnya kekalifahan Utsmani tahun 1924, dan semakin kuatnya hegemoni Barat, kelemahan dan ketertinggalan bangsa-bangsa yang mayoritas menganut Islam telah menyulut semangat untuk mencari model dan jalan untuk kembali meraih kejayaan Islam di masa silam. Menurut Zuwairi Misrawi dan Khamami Zada, slogan-slogan yang mengemuka antara lain: al-Islâm huwa al-hal (Islam adalah alternatif), tatbiq al-syari’ah (menegakkan syari’at Islam), khilafah al-Islâmiyah (mendirikan kembali kekhalifahan Islam), dan al-Islâm shâhihun likulli zamân wa makân (Islam itu kompatabel untuk segala waktu zaman dan tempat), dan sebagainya.[27] Doktrin ini menggelora selama berabad-abad, khususnya pasca-run-tuhnya dinasti Utsmaniyah, sehingga dalam batas-batas tertentu doktrin tersebut telah membentuk kognisi keagamaan dogmatis yang bercorak “hitam-putih”. Secara khusus, sejak munculnya negara Israel tahun 1948 afiliasi keislaman di negara-negara Arab muncul kembali ke permukaan, terutama setelah kekalahan Mesir pada perang dengan Israel tahun 1973. Afiliasi berdasarkan agama ini menguat karena nasionalisme Arab dianggap tidak berdaya melawan hegemoni Barat yang semakin kuat menancapkan cakarnya di Timur Tengah. Politik luar negeri Amerika semakin condong ke Israel, dan sering mengorbankan rakyat Palestina, juga menjadi faktor pendorong munculnya gerakan-gerakan militan Islam.

●  Refleksi Kebangsaan: Mengelola warisan Kebhinnekaan kita

Harus dicatat pula, bahwa realitas kemajemukan bangsa  adalah  warisan sejarah panjang perjalanan Indonesia selama berabad-abad sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dengan luas wilayah Nusantara yang hampir 2 juta kilometer persegi, terdiri dari sekitar 13.700 pulau besar dan kecil, lebih dari 300 ragam etnis,  dengan adat istiadat, budaya dan keyakinan agama yang berbeda-beda, menyimpan potensi keretakan  yang kapan saja bisa mengemuka apabila tidak ada alasan atau raison de’etre sebagai bangsa untuk bersatu. Bahwa raison de’etre  untuk menjadi satu bangsa, bukan sekedar perasaan subjektif para pendiri bangsa menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan mendapatkan pijakan sejarah selama berabad-abad seperti telah dibuk-tikan di atas. Dan kesadaran sebagai putra-putri dari sebuah bangsa yang besar yang telah melahirkan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, kiranya menjadi tugas sejarah untuk terus mem-perjuangkan dan mewujudkan kesatuan bangsa, dan menjadi obor penyuluh, ketika sebagian anak-anak bangsa ini mulai dijangkiti penyakit sektarian sempit, fanatisme agama, dan egoisme kelompok dan golongan yang mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam situasi seperti ini pesan Mpu Tantular menjadi relevan untuk kita sosialisasikan kembali, yaitu dengan kesadaran bahwa selain di “ruang privat” kita masing-masing mengenai apapun kebenaran yang kita yakini (dan ini diwakili seloka: Tan Hana Dharma Mangrwa Tidak ada kebenaran religius yang mendua”), tetapi di “ruang publik” kita harus menghela tugas sejarah bersama, yang dengannya eksistensi NKRI sebagai rumah kita bersama kita pertaruhkan: Bhinneka Tunggal Ika  “Berbeda-beda, tetapi Satu Jua”. ***


[1]Sinopsis karya-karya Mpu Tantular dapat dibaca dari P.J. Zoelmulder, SJ. Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1995), hlm. 430-437. Lebih lanjut, Seluruh kisah di atas Kakawin Sutasoma Mpu Tantular. Alih Bahasa: Dwi Woro Resno Mastuti dan Hastho Bramantyo (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009).
[2]Soewito Santosa, Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana (New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1975).
[3]Lihat: Pidato Bung Karno “Lahirnya Pantjasila”, dimuat dalam R.M. A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-undang Dasar 1945. Edisi Revisi (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009), hlm. 159.
[4]Naskah lengkap perundang-undangan ini telah pula diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul Perundang-undangan Madjapahit (Djakarta: Bhratara Karya Aksara, 1967). Naskah ini berasal dari naskah yang sama yang diang-kat menjadi disertasi J.C.G. Yonker, Een Oud-Javaansch Wetboek Vergeleken met Indische Rechtbronnen, yang dipertahankan di Universitas Leiden, Negeri Belanda, untuk memperoleh gelar doctor dalam kesusastraan Timur,  tahun 1885. Ternyata naskah ini pernah diterbitkan dalam terjemahan bahasa Bali dan Melayu oleh I Goesti Poetoe Djelantik dan H.J.E.F. Schwartz, Wetboek “Agama” in Het Hoog-Balisch en Meleishch Vertaald (Batavia: Landsdrukkerij, 1918). Naskah undang-undang kuno ini diterbitkan pada masa kolonial untuk kepentingan pengadilan Kerta, di Bali dan Lombok.  Dalam bahasa asli Jawa kuna yang dilestarikan dalam bentuk Lontar, Kutaramanawa  disimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda (Code: G.D. Huet).
[5]I Goesti Poetoe Djelantik dan Ida Bagoes Oka, Ādi Āgama: Oud Bausch Wetboek op Last van den Resident van Bali en Lombok in Het Hoog Balisch Vertaald (Batavia: Landrukkerij, 1918).  Selain kedua kitab tersebut, J.J. Fraser dalam bukunya  De Inheemse Rechtpraak op Bali, bahkan menyebut 26 lontar hukum peninggalan masa Jawa kuno. Diantara sumber-sumber tertulis hukum adat Bali peninggalan dari masa Jawa kuno itu, untuk menyebut beberapa yang paling sering dikutip antara lain: Āgama (atau Kutaramanawa), Ādigama, Purwā Āgama Purwādhigama, Rajapatigundala, Siwasasana, Siwajambu, Swarajambu, Dewagama (atau Dharma Upapati), Dewa-danda (atau Dharma Wicara), dan sebagainya (G. Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta, Manawa Dharma-çastra (Manu Dharmaçastra) atau Weda Smrti Compedium Hukum Hindu (Jakarta: PT. Junasco, 1978), hlm. 8-9.
[6]Soekarno, “Lahirnya Pancasila” dalam RM. A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-undang Dasar 1945.  Edisi  Revisi (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009), hlm. 163.
[7]S. Soepomo, Arjunawijaya: A Kakawin of Mpu Tantular. Bibleotheca Indonesica, No. 14 – Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (The Hague: Martinus Nijhoof, 1977), hlm. 80-81.
[8]Muhammad Yamin, Tata Negara Madjapahit. Sapta Parwa. Jilid IV (Jakarta: Prapanca, 1962), hlm. 248-249.
[9]I Ketut Riana, Kekawin Desa Warnana utawi Nagara Krtagama. Masa keemasan Majapahit (Jakarta: Penerbit Kompas, 2009), hlm. 152-153.
[10]RM. A.B. Kusuma,  Op. Cit, hlm. 118, 128.
[11]Ibid, 129-130.
[12]Ibid.
[13]Ibid, hlm. 251-253.
[14]Ibid, hlm. 246-247.
[15]Ibid, hlm. 255. Disebutkan dalam Kakawin Negarakrtagama (Canto ke-14, pupuh ke-5, baris ke-3): “Muwah tikhan i wandan, ambwan athawa maloko wwanin. Artinya: “Begitu juga Wandan, Ambwan (Ambon) atau Maloko (Maluku),  Wwanin (Papua)”. H. Kern, Het Oud-Javaavsche Lofdicht Nagarakrtagama van Prapanca (1365 AD). “Hadi Poestaka” Boekh. Uitg.-Mij’s-Gravenhage – Amsterdam, 1919), hlm. 49-50.
[16]A.B. Kusuma, Op. Cit.  hlm. 157.
[17]Teks Sanskrit dengan terjemahan bahasa Inggris, dikutip dari Śrīmad Vālmīki-Rāmāyana. Part II (Aranya-Kanda, Kiskindha-Kanda and Sundara-Kanda). Gorakhpur, India: Gita Press, 1992), hlm. 1019-1020.
[18]Epos Ramayana juga menyebut bahwa kayu cendara diimpor dari kepulauan Nusantara, dari Gunung Rsabha yang terletak di Timor . I.B. Putu Suamba, Siwa-Buddha di Indonesia: Ajaran dan perkembangannya (Denpasar: Universitas Hindu Indonesia dan Widya Dharma, 2007), hlm. 41.
[19]Tesis HUnstington ini, beberapa tahun kemudian lalu ditulisnya menjadi sebuah buku yang lebih lengkap: Samuel P. Hunstington, The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order (London: Touchstone Books, 1998).
[20]Tendensi ini tampak pada penjelasan Bab I buku ini. “Keberadaan musuh sangatlah penting”, tulis Hunstington, “dan permusuhan yang paling penting di masa mendatang akan terjadi pada area persinggungan antar peradaban-peradaban utama di dunia” (Ibid, hlm. 28-31).
[21]Lihat artikel saya: Bambang Noorsena, “Sindrom Perang Salib di Afghanistan”, dimuat dalam Mingguan TEMPO, 4 Nopember 2001.
[22]Samuel P. Huntington, Saddâm al-Hadhârât wa ‘I’âdat Shun’in Nidhâm al-‘âlamî (Cairo, Mesir: Suthûr li an-Nasyr, 1998).
[23]Dr. Mîlâd Hanâ, Qabûl al-âkhar: Min ajli Tawâshul Hiwâr al-Hadhârat (Cairo, Mesir:  Al-I’lamiyyah li an-Nasyr, 2002), hlm. 40.
[24]Ibid, hlm. 67-68.
[25]Lihat juga artikel saya: Bambang Noorsena, “Ramadhan di Cairo”, dimuat Harian Sore Surabaya Post, 20 September 2004.
[26]Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan  (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2004), hlm. 16-17.
[27]Zuhairi Misrawi dan Khamami Zada, Islam melawan Terorisme (Jakarta: Lembaga Studi Islam Progresif/LSIP dan Yayasan TiFA, 2004), hlm. 94-95.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers